VIDEO: Ketua KPAI Babel Cemas Angka Kasus Cerai Capai Angka 813 Kasus

Angka perkara atau kasus gugatan cerai di sejumlah pengadilan provinsi kepulauan Bangka Belitung (Babel) khususnya di pulau Bangka tahun 2018

BANGKAPOS.COM,BANGKA - Angka perkara atau kasus gugatan cerai di sejumlah pengadilan provinsi kepulauan Bangka Belitung (Babel) khususnya di pulau Bangka tahun 2018 lalu cukup memprihatinkan.

Sementara, berdasarkan data yang diperoleh pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah provinsi Babel dari sejumlah pengadilan (Pengadilan Agama/Pengadilan Negeri) di Babel yakni angka perkara/kasus gugatan cerai dalam kurun waktu periode 2018 lalu hingga hampir mencapai 813.

Demikian hal itu diungkapkan oleh ketua KPAI Babel, Sapta Qodria Muahfi SH dalam konferensi persnya, Rabu (13/3/2019) di Pangkalpinang.

Diterangkanya, sementara data yang dihimpun pihaknya antara lain data dari pihak Pengadilan Agama Sungailiat tercatat angka perkra/kasus gugatan cerai selama tahun 2018 mencapai angka 813.

"Jumlah total angka kasus gugatan cerai di Pengadilan Sungailiat ini meliputi cerai gugat sebanyak 579 sedangkan cerai talak mencapai angka sebanyak 234," katanya.

Namun begitu angka total kasus gugatan cerai ini 813 ditegaskanya tentunya meliputi perkara kasus gugatan cerai masyarakat dari berbagai daerah asal yakni Kabupaten Bangka, Bangka Tengah dan Bangka Selatan.

Beda halnya dengan kondisi data tingkat angka kasus gugatan perceraian yang diperoleh pihak KPAI Daerah Babel khusus dari Pengadilan Agama Pangkalpinang selama tahun 2018 lalu mencapai angka total 496.

Kondisi angka kasus gugatan perceraian khususnya di Bangka hingga mencapai angka 813 ini justru menuai sorotan atau perhatian serius pihaknya (KPAI Daerah provinsi Babel), hal ini dikarenakan akan menimbulkan dampak negatif terhadap anak asuh dari masing-masing pasangan yang berperkara gugatan perceraian tersebut.

"Angka perceraian ini menjadi pemikiran kita bersama terutama dampak negatif terhadap anak," kata Sapta. Tak cuma itu bahkan dampak negatif lainnya terkait perkara gugatan perceraian di Bangka ini pun dikhawatirkanya akan berdampak pula terhadap perkembangan anak termasuk kesehatan anak asuh itu sendiri selain dampak negatif terhadap kejiwaan anak asuh.

Namun begitu menurutnya salah satu faktor lainnya suatu sengketa atau persoalan pasangan rumah tangga ini pun tak lepas pula dari faktor usia pernikahan pasangan tersebut.

"Maka itu kami tekanka pernikahan usia dini sangat kita pikirkan. Ini akan berdampak adanya perceraian dini," pesannya.  (BANGKA POS/Ryan A Prakasa)

Penulis: ryan augusta
Editor: tidakada016
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved