Berita Pangkalpinang

Toni Curigai Lada Babel Banyak Diperdagangkan Antar Pulau

Jumlah lada di Babel ada 55 ribu hektar, produksi paling minim saja tidak sampai 1 kg/, paling sedikit 30 ribu

Toni Curigai Lada Babel Banyak Diperdagangkan Antar Pulau
Bangka Pos/Krisyanidayati
Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Babel, Toni Batubara saat melepas ekspor 780 ton lada dan karet di PT Fajar Berseri, Jum'at (15/3/201) . 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ekspor lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak tiga tahun terakhir terus mengalami penurunan.

Balai karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang mencatat ekspor lada putih tahun 2018 mencapai 4.946 ton, tahun 2016 turun menjadi 2.740 ton, dan tahun 2017 menjadi 2.508 ton.

Namun, merangkak naik pada tahun 2018 mencapai 2.601 ton. Sedangkan dua bulan pertama pada tahun 2019 baru mencapai 260 ton.

Dalam catatan Balai Karantina ekspor lada dari tahun 2015-2018, setidaknya ada 20 negara tujuan ekspor lada diantaranya Amerika Serikat, Singapura, Jerman, Prancis, Cina, India, Vietnam, Taiwan, Hongkong, Jepang, Malaysia, Belanda, Inggris, Spanyol, Philipina, Korea Selatan,Pakistan, USA, Saudi Arabia dan Oman.

Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Babel, Toni Batubara mengatakan produksi lada di Babel tembus 30 ribu ton per tahun dengan luas lahan perkebunan lada mencapai 55 ribu hektar se Babel.

"Jumlah lada di Babel ada 55 ribu hektar, produksi paling minim saja tidak sampai 1 kg/, paling sedikit 30 ribu ton/tahun, tapi data eskpor lada kita hanya 3000-6000 ton/tahun, berarti lada kita keluar lewat provinsi lain," kata Toni saat menghadiri pelepasan eskpor 780 ton karet dan lada di PT Fajar Berseri, Jum'at (15/3/2019).

Toni menyebutkan, pemerintah memberikan perhatian yang sangat serius untuk tiga komoditi ekspor perkebunan di Babel. Mulai dari berbagai kucuran bantuan bibit hingga pupuk.

"Pemerintah Provinsi, melalui dinas pertanian akan sangat serius eksplore potensi pertanian di daerah kita. Lada dan karet menjadi perhatian provinsi, begitu banyak bantuan yang diberikan kepada petani baik lada dan karet, termasuk sawit juga," katanya.

Dikatakan Toni, pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan harga komoditas pertanian ini layak di tingkat petani. Pertanian dan Perkebunan, bisa menjadi sektor yang menjanjikan paska timah.

"Kita sadari harga sawit mandiri, lada dan karet belum layak diterima petani kita. Petani kita Hanya bekerja sebagai pekerja, yang menikmati hasil produk pertanian sebetulnya bukan petani kita, tapi mereka yang bermain di paska panen," katanya.

Halaman
12
Penulis: krisyanidayati
Editor: tidakada016
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved