Kisah Batik Tiga Negeri Pantura, Nyah Kiok dan Tujuh Bidadari Lasem

Lasem tenar dengan julukan Kota Batik, setidaknya industri batiknya telah berkembang sejak pertengahan abad 19

Kisah Batik Tiga Negeri Pantura, Nyah Kiok dan Tujuh Bidadari Lasem
Sigit Pamungkas
Rumah batik Nyah Kok di Jalan Karangturi VI/24 merupakan salah satu rumah batik yang masih membuat batik tiga negeri dengan motif 'gunung ringgit pring' sejak awal abad 20 hingga saat ini. 

Sepeda-sepeda para tujuh bidadari diparkir di area gang rumah Nyah Kiok. Tas keranjang ayaman mereka hampir mirip, ayaman berbahan plastik dengan warna warni pastel yang tampak pudar warnanya. Di dalamnya terdapat bekal sarapan dan makan siang mereka yang sederhana. Namun, saya dapat menemukan hal yang sama menjadi isi tas mereka yaitu kerupuk! Saya pun sering melihat di beberapa tempat mbatik, para pembatiknya selalu membawa kerupuk. Saya pun bertanya karena penasaran.

Tak dinyana, Mbah Suti menjawab,”Asale mbiyen ejeh enom aku mlaku soko omah teko kene. Saiki nyepedah. Anak telu nembe aku nyepedah. Mbiyen mlaku ki mangan krupuk la wong mlakune sejam. Yo mben ndino nggowo krupuk.” (asalnya dahulu waktu masih muda, aku jalan kaki dari rumah sampai sini – rumah Nyah Kiok. Sekarang naik sepeda. Punya anak tiga baru aku naik sepeda. Dulu jalan sambil makan kerupuk karena jalan kakinya satu jam).

Bagi saya warisan batik tiga negeri tidak hanya warna, motif, dan pemasaran yang luas, namun juga tentang kehidupan pembatiknya yang sederhana–pengabdian, sepeda, dan kerupuk.

Batik tiga negeri di Jawa merupakan warisan budaya akulturasi dari beberapa titik wilayah seperti Lasem, Pekalongan (kota dan Batang), Solo, dan beberapa di Cirebon, Semarang, Kudus, sampai Surabaya. Menilik keberadaan batik tiga negeri di beberapa titik di Jawa menunjukan penurunan. Setidaknya di kota pusat legenda batik tiga negeri berkembang yaitu Lasem Solo Pekalongan.

Tiga negeri Solo telah mati, tiga negeri Pekalongan dalam keadaan krisis pembatik tiga negeri, tiga negeri Lasem… mungkin merupakan yang terbanyak memiliki pembatik tiga negeri.

Mungkinkah kita masih bisa berharap pada para pengusaha, seniman dan pembatik di Lasem? Tantangan yang dihadapi tak sedikit, terlebih mengenai pelestarian motif kuna, produksi, permodalan, penggunaan warna, limbah batik, tenaga kerja, kesejahteraan seniman batik, pemasaran, produk kreatif, industrialisasi batik (cap, sablon, hingga kain printing motif batik) hingga keberlanjutannya yaitu regenerasi.

Bagaimana nasib kain tiga negeri Lasem kelak?

https://nationalgeographic.grid.id/read/131666622/nyah-kiok-dan-tujuh-bidadari-lasem-kisah-batik-tiga-negeri-pantura?page=all

Editor: tidakada016
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved