Fakta Baru Terungkap, Edy Rahmayadi Ternyata Dilengserkan dari Ketum PSSI

Bukan mengundurkan diri, Edy Rahmayadi disebut dilengserkan dari jabatan Ketum PSSI oleh Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN).

Fakta Baru Terungkap, Edy Rahmayadi Ternyata Dilengserkan dari Ketum PSSI
bolasport.com
Mantan Ketua Umum PSSi, Edy Rahmayadi 

BANGKAPOS.COM -- Bukan mengundurkan diri, Edy Rahmayadi disebut dilengserkan dari jabatan Ketum PSSI oleh Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN).

Wartawan senior media terkemuka di program Mata Najwa, Yesayas Oktovianus mengakui KPSN memang didirikan untuk melengserkan Edy Rahmayadi.

Yesayas menyebut nama ketua KPSN itu adalah Suhendra Hadikuntono dan dia hanya menjabat sehari.

Pria yang terhitung sebagai pendiri KPSN itu disebut memilih mundur dari jabatan ketua karena tdak sanggup memenuhi target dalam melengserkan Edy Ramayadi dari kursi Ketua Umum PSSI dalam waktu sebulan.

"Target satu bulan itu terlalu berat dan tidak masuk akal," kata Yesayas saat menyampaikan alasan Suhendra mundur dari jabatan KPSN, kutip Bangkapos.com dari Tribunnews.com, Sabtu (23/3/2019).

Yesayas juga mengungkapkan Edy Rahmayadi sebenarnya juga sudah tidak nyaman sebagai Ketua Umum PSSI.

Penangkapan demi penangkapan yang terjadi pada pelaku pengaturan dan ada mosi tidak percaya yang digalang KPSN melalui voters atau para pemilik hak suara beberapa hari menjelang Kongres PSSI di Bali, 20 Januari 2019.

Itu seperti operasi intelijen yang membuat Edy tidak nyaman.

Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono malah menampik klaim Yesayas.

Suhendra Hadikuntono mengaku KPSN didirikan atas dasar rasa keprihatinan yang mendalam atas prestasi sepak bola nasional yang gagal bersaingan secara baik di tingkat regional maupun dunia.

Salah satu penyebabnya adalah maraknya pengaturan skor.

KPSN, kata Suhendra, bertujuan untuk memberantas pengaturan skor dan perubahan dalam tubuh PSSI.

"Bahwa dalam perjuangan ke arah PSSI yang lebih baik itu ada pihak-pihak yang menjadi korban, misalnya Ketua Umum mundur atau Plt Ketua Umum menjadi tersangka, itu konsekuensi perjuangan."

"Revolusi kadang-kadang memang menelan anak kandungnya sendiri," ujar Suhendra menanggapi isu balas dendam politik karena partai yang didukungnya kalah dalam Pilkada Sumut 2018.

Editor: tidakada017
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved