Dituding Persulit Iklan dari Pesaing, Google Didenda Rp 24 Triliun di Eropa

Google kembali didenda di Benua Biru. Regulator Antimonopoli Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepada Google Inc sebesar 1,49 miliar euro

Dituding Persulit Iklan dari Pesaing, Google Didenda Rp 24 Triliun di Eropa
Kompas/PAUL SAKUMA
Perusahaan mesin pencari di internet, Google Inc, dikabarkan terjun ke bisnis telepon bergerak. 

BANGKAPOS.COM —  Google kembali didenda di Benua Biru. Regulator Antimonopoli Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepada Google Inc sebesar 1,49 miliar euro (sekitar Rp 24 triliun) karena mempersulit iklan dari pihak pesaing.

Ini merupakan sanksi ketiga bagi Google di Eropa selama dua tahun terakhir. Dalam kasus denda terbaru, Google dituding menyalahgunakan dominasinya di ranah search untuk mempersulit tampilan iklan dari pesaing dari 2006 hingga 2016.

"Google telah memantapkan posisinya di ranah iklan pencarian online dan melindungi diri sendiri dari tekanan pesaing dengan menerapkan pembatasan kontrak yang bersifat antikompetitif bagi rekanan situs pihak ketiga," ujar komisioner Komisi Eropa, Margrethe Vestager.

"Ini merupakan tindakan ilegal di bawah regulasi anti-trust Uni Eropa," lanjutnya.

Sebagian situs web menyediakan kolom search untuk mencari konten. Ketika pengunjung menggunakan kolom tersebut, situs akan menampilkan hasil pencarian, berikut iklan lewat Google AdSense.

Inilah yang menjadi pokok masalah. Pada 2006, Google mulai memasukkan klausa "perjanjian eksklusif" dengan para publisher yang mencegah tampilnya iklan dari pesaing Google, macam Microsoft dan Yahoo.

Kemudian, pada 2009 Google mengganti klausa "perjanjian eksklusif" dengan "penempatan premium". Artinya, publisher situs mesti mengalokasikan ruang-ruang dengan posisi terbaik  untuk iklan dari Google.

Publisher situs juga harus memesan iklan Google dengan jumlah minimal dan diwajibkan meminta izin tertulis dari Google apabila ingin mengubah tampilan iklan dari pesaing.

Google pun disebut bisa "mengendalikan seberapa menarik iklan pesaing dan seberapa banyak diklik".

"Pesaing Google tidak bisa tumbuh dan bekompetisi. Hasilnya, pemilik website hanya punya sedikit pilihan untuk menjual ruang iklan di situsnya dan terpaksa bergantung pada Google," sebut Vestager, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari BBC, Sabtu (23/3/2019). 

Halaman
12
Editor: tidakada016
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved