Breaking News:

Berita Sungailiat

Penderita Penyakit TBC di Babel Capai 2.800 Kasus

Penyakit Tuberkulosis (TB atau TBC) di Bangka Belitung mencapai 2.800 kasus temuan dan baru 87 persen yang baru berhasil di obati berdasarkan data tah

Penulis: Riki Pratama | Editor: nurhayati
Penderita Penyakit TBC di Babel Capai 2.800 Kasus
Bangkapos/Riki
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Babel, Mulyono.

BANGKAPOS.COM--Penyakit Tuberkulosis (TB atau TBC) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 2.800 kasus temuan dan baru 87 persen yang baru berhasil di obati berdasarkan data tahun 2018.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Babel, Mulyono, usai menghadiri acara Sosialisasi Advokasi Pengendalian TBC di Kabupaten Bangka, pada Senin (25/3/2019) di kantor Bupati Bangka.

"Untuk di Babel sekitaran 2.800 kasus tahun 2018, dan baru 87 persen yang berhasil diobati, artinya tingkat pengobatan baru 87 persen ada yang belum selesai pengobatanya," jelas Mulyono.

Disampaikannya saat ini pihak dinas kesehatan tengah gencar untuk menemukan kasus TBC agar semuanya bisa diobati dan perlahan penderita TB berkurang di Provinsi Babel.

"Untuk kasus TBC, penemuan meningkat tiap tahunya, tetapi meningkat itu masih kurang, karena kita ingin sebanyak mungkin, di Kabupaten Bangka target baru mencapai 49 persen dari target penemuan. Jumlah ditemukan harus lebih banyak lagi, karena TBC tidak menular kalau ditemukan dan diobati statusnya, malah kalau tidak diobati jadi sumber penularan," ungkapnya.

Ia mengatakan, masyarakat jangan takut untuk berobat serta memeriksa penyakit TBC ini, gejalanya berupa batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh hingga tiga minggu, bila ada gejala seperti itu agar bisa langsung datang ke puskesmas untuk diperiksa dahaknya, apakah mengandung TB atau tidak.

"Jangan takut dengan penyakit ini, apabila kasus TB ini meningkat justru ini intinya ditemukan, bukan artinya kasus meningkat, tetapi TB harus ditemukan 70 hingga 100 persen, karena kita mau percepatan, bila banyak penemuan dan pengobatanya harus tuntas. Karena pengobatanya jangka panjang, jangan berhenti di tengah jalan, TB akan menularkan ke orang lain, serta biayanya akan besar bila tidak diobati secara tuntas," jelas Mulyono. (Bangkapos/Riki Pratama).

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved