Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Kepala DP3ACSKB Babel Beberkan 13 Isu Strategis Bidang Kependudukan di Babel

Kita baru satu yang KLA Bangka Tengah, minimal kita itu harus 5 kabupaten/kota, ini yang harus menjadi

Editor: Iwan Satriawan
Bangka Pos/Krisyanidayati
Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3ACSKB) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar rapat koordinasi Penyusunan Renja 2020 di Bangka City Hotel, Kamis (28/3/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3ACSKB) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Susanti menyampaikan ada 12 isu strategis di bidang DP3ACSKB yang harus menjadi perhatian semua pihak.

Hal ini disampaikannya dalam rapat koordinasi Penyusunan Renja 2020 yang dihadiri dari kabupaten/kota, di Bangka City Hotel, Kamis (28/3/2019).

Ia mengimbau dinas untuk menggunakan data kependudukan dalam membuat perencanaan agar menjadi acuan.

Isu strategis ini merupakan gambaran persoalan yang terjadi di Babel baik di tingkat kabupaten/kota. Susanti berharap ini harus menjadi perhatian bersama.

Salah satu yang menjadi fokus ialah menjadikan Provinsi Layak Anak (Provila), untuk menjadi Provila minimal 5 kabupaten/kota harus sudah menjadi Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).

"Kita baru satu yang KLA Bangka Tengah, minimal kita itu harus 5 kabupaten/kota, ini yang harus menjadi perhatian kita semua," katanya.

Tak hanya itu, persoalan pernikahan dini di Babel yang mencapai 37 persen, ini harus menjadi perhatian semua pihak.

"Babel ini ada kenaikan angka pernikahan tingginya ini tinggi, ada 37 persen anak kita dari 400 ribu lebih anak kita," katanya.

Ia meminta kabupaten/kota untuk bersinergi untuk membahas dan melaksanakan rencana kegiatan ini.

"Isu strategis ini bisa disampaikan lagi kalau ada yang lebih urgent lagi yang harus kita capai dan selesaikan bersama, misalnya tujuannya untuk mengurangi angka pernikahan anak," katanya.

Adapun Isu strategis yang harus dipahami bersama

1. Melihat rendahnya presentasi perempuan dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Hal ini dilihat dari indeks pembangunan gender dan indeks pemberdayaan gender yang masih rendah yang 56 persen.
2. Rendahnya implementasi Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Perencanaan Penganggaran Responsif Gender (PPRG)
3. Masih rendahnya presentase keterwakilan perempuan di legislatif, eksekutif dan yudikatif
4. Belum terbentuknya kabupaten/kota layak anak
5. Golongan disabilitas masih dianggap karma buruk bagi keluarga
6. Kurangnya pemberdayaan lembaga masyarakat dan dunia usaha
7. Pengaruh revolusi industri 4.0 terhadap tumbuh kembang anak (ketergantungan anak terhadap gadget/smartphone)
8. Tingginya usia perkawinan anak
9. Masih tingginya angka kelahiran total (TFR)
10. Masih rendahnya pemanfaatan data dan dokumen kependudukan
11. Masih rendahnya cakupan Kartu Identitas Anak (KIA)
12. Masih rendahnya cakupan kepemilikan akta nikah.

Sumber: DP3ACSKB Babel.

(BANGKAPOS.COM/Krisyanidayati)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved