HORIZON

Prostitusi Putih Abu-abu

Diiringi dengan tutur kata yang lugas, pelajar ini juga mengeluarkan alat kontrasepsi yang terselip di antara buku-buku pelajaran di dalam tas seko...

Prostitusi Putih Abu-abu
Logo Bangka Pos 

Prostitusi Putih Abu-abu

ROK berwarna abu-abu tergantung di balik pintu sebuah kamar kos di tengah kota Pangkalpinang. Diiringi dengan tutur kata yang lugas, pelajar ini juga mengeluarkan alat kontrasepsi yang terselip di antara buku-buku pelajaran di dalam tas sekolahnya.

Diskripsi tersebut bukanlah kisah dua pelajar yang terjebak pergaulan liar. Lebih dari itu, siswi ini rela menanggalkan seragam sekolahnya bukan untuk nafsu seksualnya. Ia merelakan dijamah laki-laki yang tidak dicintainya bahkan mungkin baru dikenalnya aplikasi melalui sosial media demi rupiah.

Fenomena inilah yang paling membuat sesak dari serangkaian investigasi selama sepekan terakhir. Keterlibatan sejumlah pelajar sekolah dalam praktik prostitusi inilah yang membuat kita khawatir.

Mereka ini bisa jadi orang yang sama sekali tidak kita kenal. Namun siapa menyangka jika ternyata salah satu dari mereka adalah anak perempuan kita yang ketika di rumah tampak lugu. Mungin juga, dia adalah adik perempuan kita yang selalu menurut kepada kakaknya. Atau barangkali mereka ini adalah satu dari sekian banyak anak didik kita yang mungkin tampak wajar-wajar saja ketika ada di sekolah.

Mereka tentu bukan anak-anak yang harus dimusuhi, meski barangkali ternyata ia adalah teman main dari anak-anak kita. Tapi siapapun mereka ini, tentu sewajarnya jika fenomena ini menuntut kita untuk lebih peduli terhadap keluarga kita.

Merelakan diri menanggalkan seragam sekolah di hadapan laki-laki yang usianya lebih tua tentu bukan untuk memenuhi hasrat seksual. Ada problem lain di luar hasrat seksual yang mendorong mereka melakukan hal tersebut.

Boleh jadi, ini semua buntut dari tuntutan untuk eksis ketika mereka berbaur dengan lingkungan sosial mereka. Uang jajan yang cukup bisa jadi menjadi tuntutan anak-anak kita sehingga nekat melakukan praktik dosa tersebut. Atau impian atas ponsel canggih seperti yang dimiliki teman-teman mainnya juga bisa menjadi pemicunya.

Namun apapun alasannya, problem konsep moral, lingkungan sosial yang tak ramah serta figur otorita di keluarga yang bermasalah patut untuk disoal. Pemerintah, dalam hal ini termasuk pihak yang berwajib harus ikut campur tangan menyelesaikan masalah ini.

Diakui atau tidak, dari tiga substansi masalah yang melandasi fenomena prostitusi anak ini, pihak berwenang terlibat langsung dalam menciptakan masalah tersebut. Problem konsep moral dan keluarga boleh jadi bisa muncul di mana saja dan kepada siapa saja, namun mentolelir munculnya lingkugan sosial yang tak ramah satu di antaranya adalah tanggung jawab pemerintah.

Pembiaran terhadap tempat hiburan malam, minuman keras, kos-kosan bebas dan segala sesuatu yang mencetak budaya hedonisme adalah peran dari pengambil kebijakan dalam menciptakan fenomena ini.

Abai dan pura-pura tidak tahu terkait dengan fenomena maraknya praktik prostisusi ini juga menjadi bagian dari maraknya prostitusi di Pangkalpinang.

Sejujurnya, diskusi panjang muncul sebelum investigasi terkait fenomena ini muncul. Apapun hasilnya, investigasi ini tidak akan menghasilkan berita yang luar biasa apalagi menggemparkan, sebab publik sendiri sebenanarnya sudah mulai permisif dengan fenomena ini. Jadi buat apa mengangkat sebuah fenomena jika fenomena tersebut tak lagi dipandang penting oleh publik?

Namun fakta keterlibatan siswi sekolah dalam praktik prostitusi ini tentu wajib menjadi perhatian semua pihak. (***)

Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: asmadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved