Tribun Tionghoa

Peringatan Ceng Beng Bukan Sekadar Ziarah Kubur, Istilah Festival Qingming hingga Waktu Bekerja

Peringatan Ceng Beng Bukan Sekadar Ziarah Kubur, Istilah Festival Qingming hingga Waktu Bekerja

Peringatan Ceng Beng Bukan Sekadar Ziarah Kubur, Istilah Festival Qingming hingga Waktu Bekerja
bangkapos.com/Resha Juhari
Pekerja membersihkan makam di Pemakaman Sentosa, Semabung Kota Pangkalpinang, Minggu (26/3/2017). Setiap tahunnya, Pemakaman sentosa selalu ramai didatangi warga yang ingin beribadah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ceng Beng. Puncak perayaan Ceng Beng jatuh pada tanggal 4-5 April mendatang. 

Berbeda dengan kesedihan penyapu makam, orang-orang juga menikmati harapan Musim Semi pada hari tersebut.

Kondisi Alam

Saat berlangsungnya Festival Qingming atau Ceng Beng/ Cheng Beng adalah saat matahari bersinar cerah, pohon dan rumput menjadi hijau dan alam kembali semarak.

Sejak zaman kuno, orang-orang telah mengikuti kebiasaan jalan-jalan Musim Semi.

Pada saat ini wisatawan ada di mana-mana.

Orang-orang suka menerbangkan layang-layang selama Festival Qingming atau Ceng Beng/ Cheng Beng.

Terbang layang-layang sebenarnya tidak terbatas pada Festival Qingming atau Ceng Beng/ Cheng Beng.

Keunikannya terletak pada orang yang menerbangkan layang-layang tidak pada siang hari, tetapi juga pada malam hari.

Untaian lentera kecil yang diikat pada layang-layang atau seutas benang tampak seperti bintang-bintang yang bersinar, dan karenanya, disebut "lentera dewa."

Festival Qingming juga merupakan waktu untuk menanam pohon, karena tingkat kelangsungan hidup anakan tinggi dan pohon tumbuh cepat kemudian.

Di masa lalu, Festival Qingming disebut "Hari Punjung". Tetapi sejak 1979, "Hari Punjung" ditetapkan pada 12 Maret menurut kalender Gregorian. (bangkapos.com/TeddyMalaka)

Penulis: Teddy M (tea)
Editor: teddymalaka
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved