Hari Autisme Sedunia, Ahmadi Sopyan: Mereka Butuh Hak Sama Sebagai Warga Negara

Tokoh Pemuda Bangka Belitung, Ahmadi Sopyan mengajak kepada semua pihak untuk peduli terhadap para penyandang autisme.

Hari Autisme Sedunia, Ahmadi Sopyan: Mereka Butuh Hak Sama Sebagai Warga Negara
Bangkapos.com
Ahmadi Sopyan Ingin Penyandang Autisme Mendapat Hak Sama Sebagai Warga Negara 

BANGKAPOS.COM--Tokoh Pemuda Bangka Belitung, Ahmadi Sopyan mengajak kepada semua pihak untuk peduli terhadap para penyandang autisme.

Ahmadi yang juga aktivis bertekad memperjuangkan agar para penyandang autisme bisa dicerminkan dengan pemberian hak yang sama.

Menurutnya, World Autism Awareness Day atau Hari Peduli Autisme Sedunia bukan hanya sebagai simbol untuk peringatan setiap tanggal 2 April tapi juga menjadi pendorong agar masyarakat lebih peduli terhadap sesama.

Hal ini mesti dijadikan tonggak setiap masyarakat untuk merefleksikan besarnya rasa kepedulian terhadap warga penyandang autis.

"Mari kita jadikan momen untuk mengajak masyarakat peduli bahwa anak-anak atau orang-orang autis, anak istimewa adalah bagian dari kita. Hal ini sebagai tonggak kita memiliki kepedulian besar agar mereka memiliki hak yang sama sebagai warga negara dan manusia," kata Ahmadi Sopyan di Pangkalpinang, Selasa (2/4/2019).

Di Indonesia, tidak ada data yang pasti terkait jumlah penduduk penyandang autisme.

Namun merujuk pada Incidence dan Prevalence ASD (Autism Spectrum Disorder), terdapat 2 kasus baru per 1000 penduduk per tahun serta 10 kasus per 1000 penduduk. Sedangkan penduduk Indonesia yaitu 237,5 juta dengan laju pertumbuhan penduduk 1,14%. Maka diperkirakan penyandang ASD di Indonesia yaitu 2,4 juta orang dengan pertambahan penyandang baru 500 orang per tahun.

Menanggapi fenomena tersebut, budayawan sekaligus pemerhati sosial kelahiran Desa Kemuja ini mendesak pihak pemerintah agar warga penyandang autisme mendapat perhatian khusus agar mereka bisa mendapat kesempatan yang sama.

"Pemerintah harus memfasilitasi dan memberikan ruang pelatihan bekerja untuk saudara-saudara kita yang autis dan difabel sehingga mereka mandiri. Mereka tidak butuh dikasihani karena yang mereka butuhkan adalah hak yang sama," tegasnya.

"Porsi mereka bekerja untuk meningkatkan perekonomian mereka sendiri juga harus sama karena kita adalah sesama manusia. Pada dasarnya, kita memiliki hak yang sama dengan batasan-batasan tertentu karena ada beberapa hal yang tidak bisa mereka lakukan seperti apa yang kita lakukan," tambah Ahmadi Sopyan.

Ahmadi melanjutkan, dengan terpenuhinya hak setara bagi para penyandang autisme akan memberikan kesempatan mereka untuk hidup mandiri. Para penyandang autisme bisa berbaur dan bersosialisasi seperti masyarakat lainnya.

"Upaya paling nyata adalah bagaimana memberikan pembinaan bersama para pakar untuk menentukan kelebihan yang dimiliki mereka sehingga mereka bisa hidup mandiri. Mereka harus diberikan pelatihan kerja untuk berwirausaha dan bisa mempekerjakan orang," pungkasnya.

Penulis: Khamelia (Uwa)
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved