Bukan Hanya Peribahasa,Tong Kosong Memang Nyaring Bunyinya, Peneliti Telah Membuktikan

Peribahasa “Tong kosong nyaring bunyinya” ternyata memang benar. Para peneliti telah membuktikannya lewan studi baru

Bukan Hanya Peribahasa,Tong Kosong Memang Nyaring Bunyinya, Peneliti Telah Membuktikan
(Dierk Schaefer/Flickr)
Ilustrasi pikiran manusia 

BANGKAPOS.COM – Peribahasa “Tong kosong nyaring bunyinya” ternyata memang benar. Para peneliti telah membuktikannya lewan studi baru yang dipublikasikan dalam The Journal of Positive Psychology.

Dalam psikologi, dikenal konsep kerendahan hati intelektual yang artinya adalah kemampuan seseorang orang menerima kekurangan intelektualnya secara terbuka dan tenang. Sebaliknya, orang yang tidak bisa menerima hal tersebut dan meyakini bahwa dirinya selalu benar disebut kelewat percaya diri secara intelektual (intelectual overconfidence).

Tim peneliti yang dipimpin oleh psikolog Elizabeth J Krumrei-Mancuso dari Pepperdine University menulis dalam makalah, penelitian menunjukkan bahwa mereka yang percaya bahwa pengetahuan mereka pasti benar lebih mungkin untuk mengambil konklusi dari bukti yang ambigu.

“Artinya, individu-individu ini biasanya membelokkan informasi untuk menyesuaikan kepercayaan epistemologis mereka, yang bisa mempengaruhi interpretasi informasi dan pengumpulan pengetahuan mereka,” tulis mereka.

Para peneliti ingin mengetahui korelasi dari kerendahhatian intelektual dengan kemampuan belajar. Untuk itu, mereka melaksanakan lima eksperimen terpisah yang melibatkan 1.200 partisipan. Para partisipan diberi survei berisi berbagai pertanyaan, dan diminta untuk menilai diri mereka berdasarkan skala kerendahatian intelektual yang dibuat oleh para peneliti.

Hasilnya sangat menarik. Kerendahhatian intelektual ternyata memiliki efek campuran terhadap kemampuan seseorang untuk mendapatkan pengetahuan.

Orang yang rendah hati secara intelektual ditemukan memiliki nilai yang lebih baik dalam tes pengetahuan umum. Namun, para peneliti tidak menemukan hubungan antara kerendahhatian intelektual dengan kemampuan kognitif seseorang.

Menurut para peneliti, hal ini menunjukkan bahwa kerendahhatian intelektual adalah kecerdasan kristal, seperti keahlian atau pengetahuan yang dipelajari, tetapi bukan kecerdasan cair, seperti kemampuan untuk memecahkan masalah.

Diwawancarai oleh Psypost, Krumrei-Mancuso berkata bahwa kerendahhatian intelektual diasosiasikan dengan pengukuran pengetahuan umum yang lebih akurat.

“Mengetahui (dan kemauan untuk mengakui) apa yang tidak Anda tahu adalah langkah pertama untuk mencari pengetahuan baru,” ujarnya seperti dilansir dari Sciencealert, Selasa (2/4/2019). (*)


Editor: Herru W
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved