Ceng Beng

PHRI : Ceng Beng Berdampak Positif Bagi Perhotelan dan Perekonomian

Dibanding hari-hari biasa, ada peningkatan keterisian hotel pada momen Ceng Beng ini

PHRI : Ceng Beng Berdampak Positif Bagi Perhotelan dan Perekonomian
Bangkapos
Bambang Patijaya 

BANGKAPOS.COM, BANGKA--Tradisi tahunan Ceng Beng tak hanya sarat makna nan sakral bagi yang melaksanakannya.

Tradisi ini juga memberikan dampak positif bagi geliat perekonomian di Pulau Bangka.

Salah satunya dari tingkat keterisian hotel yang ada di Pulau Bangka.

"Dibanding hari-hari biasa, ada peningkatan keterisian hotel pada momen Ceng Beng ini," ungkap ketua DPD PHRI Babel Bambang Patijaya, Rabu (3/4).

Suasana Pekuburan Kemujan Sungailiat, saat perayaan Ceng Beng
Suasana Pekuburan Kemujan Sungailiat, saat perayaan Ceng Beng (bangkapos.com/Nurhayati)

Namun menurut Bambang, jika dibandingkan momen Ceng Beng tahun-tahun sebelumnya tingkat keterisian hotel tahun ini agak berkurang.

Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya jumlah penerbangan.

"Tahun-tahun lalu seperti Sriwijaya Air bisa sampai lima penerbangan," jelas Bambang.

Lebih lanjut ia mengatakan dampak ekonomi dari momen Ceng Beng bisa dirasakan oleh masyarakat mulai dari pembersih kubur hingga para pedagang.

"Harus kita akui ada efek ekonomi ganda dari tradisi tahunan Ceng Beng ini," imbuhnya.

Tanggal 4 April mendatang, merupakan puncak ritual Ceng Beng (sembahyang kubur) di Pulau Bangka.

Untuk ritual nan sakral ini, ribuan warga Tionghoa yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia maupun yang merantau ke luar negeri seperti Hongkong, Amerika Serikat, RRT dan negara lain pulang ke Bangka.

Mereka akan berziarah ke makam-makam leluhur mereka yang tersebar di kota-kota di Pulau Bangka seperti Pangkalpinang, Sungailiat, Muntok, Jebus, Belinyu, Koba dan Toboali.

Tradisi tahunan Ceng Beng sendiri merupakan wujud bhakti kepada leluhur maupun orang tua yang sudah tiada dan merupakan moment sakral bagi warga keturunan Tionghoa dimanapun mereka berada.

Sejarah panjang Pulau Bangka dan etnis Tionghoa menjadikan sebagian warga keturunan Tionghoa mengganggap Pulau Bangka adalah tanah leluhurnya bukan negeri Cina.(Bangkapos/Iwan Satriawan)

Penulis: tidakada016
Editor: tidakada016
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved