Cheng Beng

Riana Rutin Pulang Kampung Saat Ceng Beng Meski Tiket Mahal, Lakukan Berbagai Ritual Seperti Ini

Perayaan Ceng Beng atau ziarah kubur, rutin dilakukan warga Tionghoa demi menghormati orang yang telah meninggal atau para leluhur.

Riana Rutin Pulang Kampung Saat Ceng Beng Meski Tiket Mahal, Lakukan Berbagai Ritual Seperti Ini
Bangka Pos/Dwi Ayu Mauleti
Suasana pemakaman Yayasan Sentosa Pangkalpinang, Rabu (3/4/2019). 

BANGKAPOS.COM  - Perayaan Ceng Beng atau ziarah kubur, rutin dilakukan warga Tionghoa demi menghormati orang yang telah meninggal atau para leluhur.

Satu di antaranya adalah Riana (64), asal warga Pangkalpinang, meski sudah menetap beberapa tahun di Jakarta. Wanita ini rutin pulang ke kampung halaman saat perayaan Cheng Beng. Riana setiap tahun melaksanakan ritual sembahyang kubur bersama keluarga yang ada di Pangkalpinang untuk mendiang mertua di TPU Yayasan Sentosa, Pangkalpinang.

"Ini pemakaman Mertua, setiap tahun kalau sehat, selalu pulang untuk sembahyang kubur, guna menghormati orang yang telah meninggal,"ujar Riana, saat di wawancarai bangkapos.com, Rabu (3/4/2019).

Diakuinya, harga tiket pesawat yang tinggi tidak menyurutkan ia untuk pulang ke kampung halaman guna melaksanakan sembahyang kubur. Bahkan ia menyebutkan, beberapa kerabatnya mengeluh kondisi mahalnya harga tiket pesawat.

"Saya beli tiketnya satu bulan yang lalu, karena mendadak, itupun sudah mahal. Ya mau gimana lagi, bahkan teman saya ada yang lebih mahal lagi beli tiketnya berkisar di atas Rp 1 Juta. Tapi kalau di pikir-pikir, harga tiket untuk perayaan hari besar otomatis pasti mahal,"katanya.

Selain melaksanakan sembahyang kubur, sekaligus ia manfaatkan sebagai momen berkumpul bersama keluarga yang ada di kampung halamannya.

Suasana pemakaman Yayasan Sentosa Pangkalpinang, Rabu (3/4/2019).
Suasana pemakaman Yayasan Sentosa Pangkalpinang, Rabu (3/4/2019). (Bangka Pos/Dwi Ayu Mauleti)

Ritual Cheng Beng yang Dilakukan Riana Bersama Keluarga 

Riana menuturkan, keharusan dalam melaksanakan perayaan Ceng Beng adalah sembahyang kubur yang dilakukan turun menurun untuk menghormati orang yang telah meninggal.

"Ini turun menurun, dari nenek moyang, selain itu untuk sembahyang orang tua, satu tahun ada tiga kali, yakni Ceng Beng, tanggal 15 bulan tujuh, dan Tahun Baru Imlek. Tapi yang paling besar adalah Ceng Beng," pungkas Riana.

Menurut Riana, sesajian dalam melaksanakan ritual sembahyang kubur membawa daging, kue, buah-buahan, teh dan arak sebagai makanan orang yang telah meninggal. 

"Kalau kita disini kan makan daging dulu, baru buah dan sebagainya. Tapi kami meyakini arwah disananya makan buah lalu daging. Makanya disusun seperti itu," ungkap Riana.

Ia menambahkan, simbolis lainnya saat melaksanakan ritual sembahyang kubur, yakni membakar kertas kimci uang untuk orang yang telah meninggal, juga membakar peralatan lainnya seperti kulkas, televisi, baju, emas, mesin jahit dan sebagainya. 

"Kertas itu sebagai uangnya lalu dibakar, karena kami meyakini, arwah yang telah meninggal akan menerimanya jika sudah dibakar. Kalau masalah pemberian barang tersebut terserah keluarga masing-masing,"jelas Riana, saat menjelaskan sesajian dalam melaksanakan ritual sembahyang kubur.

(Bangka Pos/Dwi Ayu Mauleti) 

Penulis: Maggang (mg)
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved