BPBD Pangandaran Berdebar-debar Hadapi "LGBT" di Daerahnya

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Nana Ruhena, mengaku deg-degan setiap tahunnya

BPBD Pangandaran Berdebar-debar Hadapi
KOMPAS.com/CANDRA NUGRAHA
Menkominfo Rudiantara menerima penjelasan terkait penggunaan radio komunikasi kebencanaan saat uji coba di Plaza Telkom Pangandaran, Selasa (9/4/2019). 

BANGKAPOS.COM - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Nana Ruhena, mengaku deg-degan setiap tahunnya saat menghadapi "LGBT" di daerahnya.

LGBT yang dimaksud Nana, bukan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender, melainkan musibah bencana yakni Longsor, Gempa Bumi, Banjir dan Tsunami.

"Semua bencana ada di Pangandaran, kecuali gunung meletus," kata Nana di sela uji coba radio komunikasi kebencanaan oleh Kementerian Kominfo di Plaza Telkom Pangandaran, Selasa (9/4/2019).

Menurut dia, bencana "LGBT" masuk katagori berat di Pangandaran, longsor, gempa bumi, dan banjir merupakan bencanan tahunan.

"Yang membuat lebih deg-degan tsunami," ujarnya.

Dia mengaku, waswas dengan tsunami mengingat wilayah Pangandaran minim alat deteksi dini tsunami.

Saat ini, hanya dua alat yang berfungsi, sedangkan sisanya sebanyak 12 alat mati total.

"Panjang pantai kita 91 kilometer. Sedangkan Early Warning System (EWS) tsunami hanya dua," katanya.

Adanya uji coba radio komunikasi kebencanaan, disambut gembira oleh Nana. Pihaknya menjadi terbantu dalam menghadapi bencana yang sewaktu-waktu terjadi.

"Kami harapkan tidak uji coba (tetapi langsung pelaksanaan). Frekuensi ini kami harap tidak usah pakai izin. Izinnya diurus sama bapak (Menkominfo) saja," ujarnya disambut tawa tamu undangan uji coba radio komunikasi kebencanaan.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menguji coba radio komunikasi kebencanaan frekuensi 700 MHz di Plaza Telkom Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Selasa (9/4/2019).

Dipilihnya Pangandaran sebagai tempat uji coba karena frekuensi 700 MHz di daerah ini tidak banyak digunakan oleh tv analog.

Selain itu, karena indeks bencana di Pangandaran, cukup tinggi.

"Karena dua hal itu," ucapnya. (Kontributor Pangandaran, Candra Nugraha)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Tiap Tahun, BPBD Pangandaran Deg-degan Hadapi "LGBT" di Daerahnya.

Editor: tidakada015
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved