Justice For Audrey

Keluarga Pelaku Pengeroyokan Minta Perlindungan KPPAD, Poppy Ingin Bantu Pulihkan Trauma Audrey

Perkelahian antara sejumlah siswi SMA dengan siswi SMP di Pontianak ini semakin viral di media sosial (medsos)

Keluarga Pelaku Pengeroyokan Minta Perlindungan KPPAD, Poppy Ingin Bantu Pulihkan Trauma Audrey
instagram/ @gosipnyinyir2
Capture tangkapan layar permintaan maaf dari pelaku kasus pengeroyokan Audrey saat konfrensi pers di Mapolresta Pontianak beredar 

"Mereka bisa tertekan, takut, dan mereka sering mengeluarkan kemarahan dan frustrasi mereka pada orang lain dalam ungkapan kekuasaan," kata Hilfer.

Seorang psikolog yang juga pakar mikro ekspresi, Poppy Amalia juga turut berkomentar.

Ia juga terang-terangan turut mengaku prihatin atas persoalan tersebut.

"Assalamulaikum warahmatullahi wabarkatuh...

Saya ingin menyampaikan keprihatinan saya yang luar biasa kepada Audrey, membaca kisahnya sudah membuat saya marah kesal dan ingin membantunya dengan amat sangat, tetapi saya tidak tahu bagaimana saya bisa mengakses Audrey, tetapi saya siap menjadi psikolog bagi Audrey.

Kenapa? karena Audrey ini mendapatkan kekerasan tidak hanya secara verbal tapi fisik, yang paling memprihatinkan adalah ia mendapatkan kekerasan dilakukan dengan sengaja dilakukan oleh pelaku yakni kakak-kakak kelas tersebut dengan memasukkan benda tumpul ke dalam kemaluannya yakni tangannya sendiri dan ini dilakukan oleh anak perempuan dengan sengaja dan dia tahu bahwa ini adalah masa depannya Audrey, dan saya tidak habis pikir,"ujarnya.

 Lanjutnya ia berharap dapat bertemu dan membantu AU secara langsung untuk diberikan bantuan terapi.

Bahkan ia akan mengratiskannya bagi AU.

"Jadi disini saya berharap dapat bertemu Audrey dan Audrey bersedia saya berikan terapi secara gratis, karena kalau tidak mendapatkan terapi khawatir akan mengakibatkan depresi atau karena stress tekanan ditanggung belum lagi pemberitaan dan lain-lain, kamu masih punya masa depan kamu masih bisa melakukan banyak hal, ini memperihatinkan ada kejadian seperti ini

Kemudian juga untuk pelaku ini orang tuanya harus dipanggil , kenapa? pola asuh apa yang diterapkan kepada anaknya hingga anaknya melakukan tindakan seperti ini, bayangkan kalau dirinya diperlakukan seperti itu seperti apa dan orang tuanya harus diberikan penanganan,"ujarnya

Seperti yang di tuliskannya di unggahannya.

"Memprihatinkan, bullying “verbal” mengata2in saja akan memberikan dampak bagi para korban, yaitu korban akan merasa depresi dan marah, Ia marah terhadap dirinya sendiri, terhadap pelaku bullying, terhadap orang-orang di sekitarnya dan terhadap orang dewasa yang tidak dapat atau tidak mau menolongnya.

Kebanyakan anak2 di bully jarang menceritakan kepada org tuanya. Krn takut, Apalagi dgn kasus ini, sampai ke fisiknya, yang berkaitan dgn masa depannya (kemaluannya).

Tentu akan memberikan dampak yg serius, bagi psikologisnya. Perlu penanganan yg tepat dan segera secara psikologis.

Utk pelaku, biasanya anak yang menjadi pelaku bullying adalah anak yg di besarkan dengan pola asuh otoriter atau sewenang-wenang menunjukkan kecenderungan anak menjadi pelaku bullying.

Selain pola asuh permisif (pembiaran)-memanjakan, juga turut menghasilkan kecenderungan remaja menjadi pelaku bullying.

Pola asuh semacam ini memberikan kebebasan pada anak untuk melakukan tindakan agresi pada orang lain. Orang tua tanpa disadari membenarkan perilaku agresif dengan tidak menghukum anak mereka ketika melakukan tindakan agresif pada orang lain.

Oleh sebab itu selain di selesaikan secara hukum, org tua pelaku semua perlu di berikan penanganan serius secara psikologis. Namun yg terpenting fokus kepada korban saat ini. “Saya bersedia menjadi Psikolognya audrey”(geser penjelasan lanjutan),"tulisnya Rabu (10/4/2019)

Artikel ini telah tayang di TribunnewsBogor.com dengan judul Terduga Pelaku Pengeroyokan Tetap Senyum Meski Ngaku Dapat Ancaman, Psikolog : Korban Lebih Depresi

Editor: nurhayati
Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved