Advertorial

Renungan Isra Mi’raj: Berbangsa, Butuh Keseimbangan dan Kematangan Berbudaya

Gerakan Reli­gius-Nasional (GRN) Kep. Bangka Belitung, melanjutkan Renungan Isra Mi’raj Keumatan dan Kebangsaan di Surau al-Ikhlas Air Kelubi Dalam.

Renungan Isra Mi’raj: Berbangsa, Butuh Keseimbangan dan Kematangan Berbudaya
Bangka Pos
Renungan Isra Mi’raj: Berbangsa, Butuh Keseimbangan dan Kematangan Berbudaya 

BANGKAPOS.COM -- Gerakan Reli­gius-Nasional (GRN) Kep. Bangka Belitung, melanjutkan Renungan Isra Mi’raj Keumatan dan Kebangsaan di Surau al-Ikhlas Air Kelubi Dalam. Hadir dalam acara, H. Sahani Saleh, Bupati Belitung yang didampingi pejabat pemerintah dari tingkat Kecamatan dan Kelurahan. Sedangkan penceramah yang hadir adalah Ust. H. A. ­Syaekhu (Pengasuh Ponpes Hidayatussalikin, Pangkalpinang) dan Ust H. Solahuddin al-Ayubi (Pimpinan Majelis Madinah Salam, Bencah, Bangka Selatan)

Dalam sambutannya, H. Sahani Saleh, menegaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj tidak boleh berhenti sebagai ritual saja.

“Mari kita terus mengambil makna luhur dari Isra Mi’raj ini. Isra adalah gambaran proses duniawi, Mi’raj adalah simbol kematangan rohani. Ini juga harus diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.”

Di sisi lain, dalam ceramahnya, Ust. H. Solahuddin al-Ayubi, mengajak semua umat untuk senantiasa mensyukuri warisan leluhur dalam kerja keumatan dan kebangsaan.

“Kita patut bersyukur dan bangga kepada pemimpin negara, Jokowi, yang telah menempatkan ulama seperti KH. A. Wahab Chasbullah dan KH. As’ad Syamsul Arifin sebagai pahlawan nasional. Ini sikap yang sangat luhur dan layak diteladani dari pemimpin negara, yang membuktikan kecintaannya pada peran dan perjuangan ulama dalam rangka mengawal tradisi dan martabat bangsa.”

Adapun Ust H. A. Syaekhu meminta jamaah yang hadir agar menjadi umat yang cerdas dan saling menjunjung tinggi warisan leluhur serta ulama ulama yang asli berwawasan keindonesiaan.

“Kita tidak boleh menjadi umat latah, mudah meniru perilaku budaya bangsa lain yang sering menafikan realitas kultur luhur keumatan dan kebangsaan berbasis nilai-nilai Nusantara. Kita tak boleh alergi dengan etnis Cina, sebab banyak hal dalam perangkat kehidupan kita yang bermula dari peradaban Cina juga. Kita tak boleh membenci mereka yang Kristiani. Lantaran sebagian hal yang berlangsung dalam kebangsaan kita juga bermula dari mereka. Masjid Istiqlal, misalnya, arsiteknya dulu dari kalangan Kristiani. Dan sekarang kita yang memanfaatkan karya luhurnya.”

Tidak hanya itu, Ust Syaekhu bahkan menuturkan, bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang berbasis nilai-nilai Nusantara. Islam yang berpijak pada Kitabullah dan Sunnah Nabi Muhammad Saw, namun dibingkai dengan nilai-nilai kearifan budaya leluhur yang khas Indonesia. Bukan Islam yang belakangan diplintir oleh sebagian yang mengatasnamakan tokoh agama, tapi tak tercerahkan dalam pengetahuan keagamaannya.”

Maka berbangsa, papar Ust A. Syaekhu membutuhkan keseimbangan dan kematangan berbudaya.

“Salah satu hikmah dari peringatan Isra Mi’raj adalah bahwa kehidupan berbangsa membutuhkan keseimbangan dan kematangan berbudaya. Bukan asal menyalahkan atau membid’ahkan aneka eksplorasi narasi budaya dalam bermasyarakat.”

Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved