Thorium di Babel: Kewenangan Terbatas, Teknologi Belum Sampai

Rusbani menyebut potensi Thorium masih tersimpan di Babel. Monasit yang mengandung Thorium tersimpan di gudang-gudang perusahaan tambang

Thorium di Babel: Kewenangan Terbatas, Teknologi Belum Sampai
(BANGKA POS / DEDY Q)
Plt. Kepala Distamben Babel Rusbani 

BANGKAPOS.COM- Pemerintah daerah, kata Plt. Kepala Distamben Babel Rusbani, tak bisa serta merta mengolah monasite menjadi thorium begitu saja. Karena terkait unsur radioaktif, maka urusannya adalah kewenangan pusat, dalam hal ini BATAN dan Bappeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir).

Selain karena tak ada kewenangan, Babel, juga di Indonesia umumnya tak memiliki tekonologi pemurnian monazite menjadi thorium.

"Teknologinya belum nyampai. Sulawesi itu masih sampai tahap pengolahan seperti Babel juga. Misalnya dari mineral ikutan itu hanya sampai elminite, zirkon, monazite. Belum sampai teknologi pemurniannya menjadi Thorium. Kalau negara lain, sudah banyak. Termasuk Israel, China jangan diomong lagi, Amerika pasti, apalagi mereka punya juga. Tetapi mereka mungkin ambil dari negara lain dulu, punya mereka nanti, itu untuk persiapan," beber Rusbani, di Kantor Distamben Babel, Jumat (12/4/2019).

Karena itulah, Rusbani menyebut potensi Thorium masih tersimpan di Babel. Monasit yang mengandung Thorium tersimpan di gudang-gudang perusahaan tambang dan masyarakat.

Dari foto-foto pada slide paparan Distamben Babel, monasit diperlihatkan disimpan dalam karung-karung putih lalu ditumpuk di dalam ruangan seperti gudang-gudang perusahaan tambang dan gudang masyarakat di Bangka Belitung.

"Seluruh Babel ini ada monazite. Apalagi Babel masuk World Tin Belt. Kalau ada timah, kemudian ada tailing dari penambangan timah, otomatis ada monazite-nya," kata dia.

Rusbani menyebut bukan kewenangan pihaknya saat disinggung rentannya monazite diselundupkan karena nilainya yang potensial dan strategis. Lagi pula, kata dia, aturan tak membolehkan raw material dikirim ke luar Indonesia.

"Kalau penyelundupan itu kewenangan aparat, ini ada aturannya. Tidak ada pengiriman ekspor yang sifatnya raw material. Kalau di Babel, raw material kita, enggak keluar. Zirkon (keluar) itukan tidak mengandung radioaktif, kuncinya di radioaktif. PT Timah kan menyimpan (monazite) juga, dan itu wajib diamankan," katanya.

Penulusuran Bangka Pos pada sejumlah pemberitaan mengenai Thorium di Babel, thorium sudah dibicarakan setidaknya sejak 2011. Mayoritas membahas Thorium sebagai bahan baku pembangkit listrik.

Sejumlah negara, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan disebut berminat mengembangkannya. Pada 2011, misalnya ada berita yang menyebut bahwa nilai per ton thorium adalah triliunan. China, peng-ekspor 90 persen thorium, disebut sempat membuat Amerika Serikat mencak-mencak gara pembatasan ekspor thorium.

Disebutkan bahwa pembatasan ekspor ini mengakibatkan terganggunya industri militer di Amerika. Saat dikonfirmasi kembali apakah gembar gembor potensi dan kekayaan thorium itu masih relevan saat ini dan bukan omong kosong, Rusbani menyebut, sebelum 2010-pun potensi Thorium sudah mulai dikenal dan dibicarakan di Babel.

Selain untuk energi, unsur radioaktif ini memang digunakan untuk industri militer. "(Gembar-gembor) itu memang benar. Kita tahu, siapa yang menguasai energi, dialah yang akan jadi penguasa. Sumber energi itu, satu di antaranya Thorium itu, bisa untuk pembangkit listrik, bisa juga untuk baterai tadi...Israel misalnya, untuk drone mereka mereka bahkan sudah gunakan ini. Peralatan militer juga perlu ini," ucapnya.

(dedyqurniawan)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved