Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Mengapa Serangan Fajar Bisa Jadi Kebiasaan pada Pemilu, Begini Kata Dosen Sosiologi UBB

Tidak dapat dimungkiri, fenomena serangan fajar seperti sudah menjadi bagian dan kebiasaan masyarakat dari setiap pesta demokrasi.

Penulis: Dedy Qurniawan | Editor: khamelia
Mengapa Serangan Fajar Bisa Jadi Kebiasaan pada Pemilu, Begini Kata Dosen Sosiologi UBB
(ist)
Dosen Sosiologi FISIP UBB, Luna Febriani, S.Sos., M.A

BANGKAPOS.COM-- Mendekati Pemilu yang tinggal menghitung hari, belakangan bermunculan status-status di sosial media tentang bagaimana masyarakat mengharapkan dan menantikan serangan fajar. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?

Menurut Dosen Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung Luna Febriani S.Sos, M. A, tidak dapat dimungkiri, fenomena serangan fajar seperti sudah menjadi bagian dan kebiasaan masyarakat dari setiap pesta demokrasi.

Serangan fajar yang dilakukan oleh para peserta pemilu ini memang menjadi salah satu pemantik bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemilu.

Menurut Althoff dan Rush, terdapat tiga faktor mengapa orang terlibat dalam aktivitas politik dan pemilu. Pertama, orang akan terlibat aktivitas politik jika tidak menghadirkan ancaman bagi kehidupan secara keseluruhan.

Kedua, aktivitas politik dilihat sebagai sesuatu yang memberikan manfaat bagi kehidupan individu. Dan, ketiga, adanya faktor untuk ‘memacu diri untuk bertindak’ atau karena adanya faktor ‘perangsang politik’ berupa kebutuhan material maupun kebutuhan immaterial.

Faktor ‘perangsang politik’ inilah yang kemudian acapkali dijadikan strategi oleh para calon untuk mengajak pemilih berparisipasi dalam pemilu dan memilih mereka.

Meskipun secara aturan hal ini tidak diperkenankan, namun fenomena ini masih lestari dalam masyarkat karena sudah menjadi kebiasaan.

Mengapa ini bisa terjadi? Dalam perspektif Pertukaran Sosial, manusia adalah aktor yang mempertimbangkan untung dan rugi bila melakukan suatu transaksi pertukaran (aktivitas) politik. Sederhananya begini, individu akan terlibat dalam aktivitas politik dan memilih seseorang calon jika individu mendapatkan reward atau keuntungan.

Dan, tidak akan terlibat dalam manakala dia tidak memperoleh keuntungan apalagi kerugian. Oleh karena itu, aktivitas politik merupakan aktivitas pertukaran sosial, yang mana terjadi pertukaran dari para peserta pemilu ke para pemilih.

Pada kasus ini, pemilu menjadi arena pertukaran, dimana proses pertukaran dilakukan dengan cara: pemilih menukar suara mereka dengan faktor ‘perangsang politik’ tadi. Masyarakat telah memperhitungkan untung atau rugi dari keterlibatan mereka dalam aktivitas politik, yang mana persepsi tentang untung rugi tersebut kurang lebih berbunyi seperti ini: Jika calon yang mereka pilih sudah terpilih nanti, belum tentu mereka akan ingat dan perhatian sama masyarakat, sehingga kalau mereka terpilih tidak akan memberikan kontribusi bagi kehidupan mereka, oleh karena itu lebih baik mengambil atau mendapatkan sesuatu dari para calon itu terlebih dahulu ketimbang tidak mendapatkan apapun.

Sehingga, perhitungan tentang untung dan rugi inilah yang kemudian menjadikan mengapa masyarakat terbiasa menunggu faktor ‘perangsang politik’, salah satunya melalui kegiatan serangan-serangan fajar.

Oleh karena itu, pentingnya fungsi pendidikan politik dalam mengubah kebiasaan yang sudah melembaga ini. Perlu pendidikan politik yang menanamkan dan memprioritaskan nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi ketimbangan kepentingan pribadi yang berbasis ekonomi. Dan, yang paling penting pendidikan politik ini bukan saja bagi para calon peserta pemilu, tetapi juga bagi masyarakat itu sendiri.

(BANGKA POS / Dedy Qurniawan)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved