H Iwan: Bangsa Indonesia Bersyukur Sukses Melewati Tahapan Memilih Pemimpin

H Iwan Setiawan mengajak jamaah memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT

H Iwan: Bangsa Indonesia Bersyukur Sukses Melewati Tahapan Memilih Pemimpin
ist
Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pangkalpinang, H Iwan Setiawan. 

BANGKAPOS, COM, BANGKA -- Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pangkalpinang, H Iwan Setiawan mengajak jamaah memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena
2 hari lalu, bangsa Indonesia telah sukses melewati satu tahapan dalam proses memilih pemimpin melalui Pemilihan Umum 2019.

"Ini menjadi momen yang sangat tepat jikalau dalam kesempatan khutbah Jumat kali ini kami akan menyampaikan tentang Amanah Kepemimpinan Dalam Islam,” kata Iwan saat menyampaikan khutbah Sholat Jumat di Masjid Silaturahmi Kecamatan Rangkui Pangkalpinang, Jumat (19/04/2019).

Mantan Ketua Masjid Istiqlal Kecamatan Gerunggang Pangkalpinang ini memaparkan, ada banyak ketentuan tentang kepemimpinan dalam sejarah panjang Islam di dunia ini, seperti Amir, Imam, Rais dan lain sebagainya.

"Akan tetapi ketentuan-ketentuan tersebut hanya menjadi sebuah nama tanpa diketahui makna dan substansinya," ujarnya.

Iwan mengajak untuk melakukan kontemplasi secara mendalam terkait amanah kepemimpinan tersebut.

“Rasulullah Muhammad SAW dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, mengklasifikasi arti dan tugas kepemimpinan dengan begitu rinci, dengan ungkapan yang selalu diulang-ulang 'akan diminta pertanggungjawabannya'.
Itu merupakan bukti sangat ditekankannya untuk menunaikan amanah kepemimpinan dari setiap orang,” ujarnya.

Dijelaskannya, ada beberapa hal yang dapat diterapkan dalam rangka membangun kepribadian yang berdiri kokoh diatas pondasi amanah kepemimpinan, antara lain

1. Selalu mengingat Allah.
2. Tidak meminta-minta menjadi pemimpin.
3. Kuat dan penuh dengan cinta.
4. Tidak mengambil kesempatan melalui jalur kedekatan emosional.

“Sesungguhnya kemampuan memimpin itu adalah anugerah sekaligus laknat, anugerah jika dapat dijalankan secara professional, namun akan menjadi laknat ketika hanya kebutuhan syahwat dan perut yang dikedepankan,” tukasnya.

Dilanjutkannya, seorang pemimpin dituntut untuk kuat dan amanah, baik secara fisik maupun secara intelektual. Artinya, seorang pemimpin harus mampu bergerak cepat dalam memimpin demi kesejahteraan siapapun yang dipimpinnya.

"Dan secara intelektual menunjukkan bahwa seorang pemimpin selain harus kerja keras tapi juga harus kerja cerdas," ujarnya.

(BANGKAPOS.COM/EDWARDI)

Penulis: edwardi
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved