Fakta Kelam Dibalik Kisah Pembantaian 21 Perawat oleh Tentara Jepang di Pulau Bangka

Pada 1942, sekelompok perawat Australia dibunuh para serdadu Jepang yang belakangan dikenal dengan peristiwa pembantaian

Fakta Kelam Dibalik Kisah Pembantaian 21 Perawat oleh Tentara Jepang di Pulau Bangka
LYNETTE SILVER
Vivian Bullwinkel adalah penyintas tunggal dalam peristiwa pembantaian di Pulau Bangka. 

BANGKAPOS.COM--Pada 1942, sekelompok perawat Australia dibunuh para serdadu Jepang yang belakangan dikenal dengan peristiwa pembantaian di Pulau Bangka.

Kini, seorang sejarawan menghimpun bukti yang mengindikasikan perawat-perawat itu mengalami serangan seksual sebelum dibantai dan pemerintah Australia menutupi kejadian itu.

"Perlu sekelompok perempuan untuk menyingkap kebenaran ini—dan akhirnya untuk menuturkannya."

Pihak keluarga, Kedutaan Besar (Kedubes) Australia dan MHVG Babar memperingati insiden Perang Dunia (PD) II ke 76 yang menewaskan 50 tentara inggris dan 22 perawat Australia yang dipusatkan di pantai Radji Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Jumat ( 16/02/2018) kemarin.
Pihak keluarga, Kedutaan Besar (Kedubes) Australia dan MHVG Babar memperingati insiden Perang Dunia (PD) II ke 76 yang menewaskan 50 tentara inggris dan 22 perawat Australia yang dipusatkan di pantai Radji Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Jumat ( 16/02/2018) kemarin. (Bangkapos/Anthoni Ramli)

Sejarawan bidang militer, Lynette Silver, tengah mendiskusikan apa yang menimpa 22 perawat Australia yang disuruh berbaris ke tepi laut di Pulau Bangka, Indonesia, kemudian diberondong dengan senapan mesin pada Februari 1942 lampau.

Semua perawat meninggal dunia kecuali satu orang.

"Peristiwa (pembunuhan) ini cukup mengejutkan semua indera. Namun, bahwasannya mereka diperkosa terlebih dahulu merupakan kebenaran yang terlalu mengerikan untuk dibincangkan," kata Silver, merujuk klaim yang dia perinci dalam buku barunya.

"Sejumlah perwira senior militer Australia ingin melindungi keluarga-keluarga yang berduka dari stigma pemerkosaan. Kejadian itu dipandang sebagai aib. Pemerkosaan dipandang lebih buruk dari kematian dan saat itu masih menjadi pelanggaran yang (pelakunya) bisa dihukum gantung di New South Wales sampai 1955."

Penyintas tunggal

Vivian Bullwinkel kena tembak dalam peristiwa pembantaian di Pulau Bangka.
Namun, dia berhasil luput dari kematian setelah pura-pura meninggal.

Dia bersembunyi di hutan, ditangkap lantas dijadikan tahanan perang, dan akhirnya kembali ke Australia.

Halaman
1234
Editor: tidakada016
Sumber: BBC Indonesia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved