Pemilu 2019

Gerindra Minta Dilakukan Perhitungan Suara Ulang dengan Membuka C1 Plano

Ketua DPC Gerindra Kota Pangkalpinang, Achmad Subari, menyoroti kondisi pelaksanaan pemilu pada level legislatif ini sangat mengkhawatirkan.

Gerindra Minta Dilakukan Perhitungan Suara Ulang dengan Membuka C1 Plano
Bangkapos.com/Ira Kurniati
Ketua DPC Gerindra Kota Pangkalpinang, Achmad Subari

BANGKAPOS.COM-- Ketua DPC Gerindra Kota Pangkalpinang, Achmad Subari, menyoroti kondisi pelaksanaan pemilu pada level legislatif ini sangat mengkhawatirkan.

Menurut dia, ada indikasi penggelembungan suara dan pihaknya menemukan kondisi di lapangan khususnya penghitungan C1 terdapat perbedaan mencolok.

"indikasi berkisar satu TPS salah hitungan kami pikir karena kesalahan yang khilaf, tapi setelah kami pantau malah berjalan di beberapa kecamatan dan bertambah. Kalau melihat kondisi ini berlaku bagi DPRD Provinsi dan Kota, berarti tidak menutup kemungkinan di DPR RI juga begitu. Yang menjadi kegelisahan kami, melihat hal ini sebagai permainan yang sudah tersistematis. Karena pelipatan 10 pada C1 menjadi bagian yang harus dilaksanakan." ungkap Acu, sapaan Achmad Subari, Rabu (24/4/2019).

Setelah melaporkan hal ini ke Bawaslu sekitar empat hari lalu, perwakilan partai Gerindra ini menginginkan adanya perhitungan suara ulang di semua TPS Kota Pangkalpinang menggunakan C1 plano bukan C1 folio yang dibagikan ke saksi. Pihaknya meminta agar C1 itu dilakukan sinkronisasi.

Selain itu untuk memastikan dan menyelesaikan permasalahan sekaligus mengclearkan nama baik lembaga penyelenggara agar tidak terjadi tudingan, dia menyebut lebih baik diselesaikan dengan pembukaan plano.

Namun sayangnya, menurut Acu, ada beberapa TPS di sejumlah kecamatan tidak mau membuka C1 plano tersebut, padahal pihaknya sudah mengantongi alat bukti dan rekomendasi dari Bawaslu.

"Kami tidak meminta pemungutan suara ulang, hanya meminta sinkronkan perhitungan suara. Tidak butuh waktu lama, paling satu kelurahan satu hari selesai. C1 itu bukan barang haram tapi kita ingin mengclearkan permasalahan ini dan kenapa tidak boleh dibuka?" tegasnya.

Dia menuturkan, pihaknya melihat penghitungan suara hampir 70 persen sudah tidak bisa dijadikan data valid. Acu menyebut, hanya meminta kejujuran dan keadilan dalam pelaksanaan pemilu ini agar tidak terjadi penggelembungan suara dan hanya menguntungkan satu parpol atau oknum saja.

"Kami mengakui pekerjaan pemilu ini hampir 24 jam tanpa istirahat. Petugas dan saksi sufah letih. Ini menjadi manfaat bagi pihak tertentu. Kami tidak ingin mencari kesalaham siapapun hanya berharap permasalahan ini dapat clear dan terbuka saja," kata  Acu

Lanjutnya, pihaknya akan terus berupaya menindak lanjuti permasalahan ini melalui tim advokasi dan menyampaikan ke lintas partai. Sebab partai lain pun diakui Acu sudah ada yang melaporkan hal ini.

Dia berharap lembaga penyelenggara dapat berlaku sesuai asas pemilu yang jujur da adil sehingga jika sudah terbukti jelas maka tidak ada tudingan miring antara partai maupun oknum nya.

"Kalau masih penolakan membuka C1 plano kami nyatakan indikasi benar terjadi penggelembungan terhadap satu partai politik," paparnya. (Bangkapos.com/Ira Kurniati)

Penulis: Ira Kurniati
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved