BangkaPosiana

Veteran Militer Ini Hidup dari Barang Buangan Bos Facebook Mark Zuckerberg

Ada ungkapan yang menyebutkan bahwa "Sampah seseorang bisa jadi harta bagi orang lain." Ungkapan ini cukup masuk akal

Veteran Militer Ini Hidup dari Barang Buangan Bos Facebook Mark Zuckerberg
intellishred.com
Ilustrasi pemungut sampah 

BANGKAPOS.COM - Ada ungkapan yang menyebutkan bahwa "Sampah seseorang bisa jadi harta bagi orang lain." 

Ungkapan ini cukup masuk akal apabila sampah orang yang dimaksud berasal dari seorang miliarder, seperti pendiri dan CEO Facebook, Mark Zuckerberg

Sampah-sampah yang dibuang oleh Zuckerberg ternyata menjadi incaran para pemungut sampah, dan sampah-sampah itu punya nilai yang berharga.

Di negara bagian California, kegiatan memungut sampah secara teknis adalah ilegal. Namun, fakta tersebut nggak menghentikan orang-orang di San Fransisco untuk menjadi pemungut sampah.

Kota ini memiliki kesenjangan yang cukup tinggi dibandingkan dengan kota-kota lain di negara bagian tersebut. 

Fenomena ini kemudian membuat sejumlah penduduk berpenghasilan rendah mengambil keuntungan dari tetangga mereka yang kaya raya dengan memegang pedoman bahwa orang dengan selera mahal cenderung memiliki sampah yang mahal juga.

Salah satu tetangga Mark Zuckerberg, seorang veteran militer bernama Jake Orta, telah menghasilkan sejumlah uang dengan menjual barang-barang yang ia temukan di tempat sampah yang berada di luar rumah CEO Facebook tersebut. 

Saat diwawancara oleh New York Times, Orta menceritakan betapa takjubnya dia pada apa yang cenderung dibuang orang-orang kaya seperti Zuckerberg.

Dalam tempat sampah di rumah Zuckerberg, ia telah menemukan vacuum cleaner, mesin kopi dan pengering rambut, yang semuanya masih dalam kondisi bagus, alias masih bisa digunakan.

Dalam kesempatan lain, ia juga pernah menemukan barang-barang mahal lain seperti celana jeans karya desainer terkenal, sepatu Nike, sepeda, bahkan iPad.

Orta kemudian menjual barang-barang ini dengan harapan untuk dapat memenuhi kebutuhannya yaitu sekitar $30 per hari.

Cerita dari Orta ini kemudian memunculkan pertanyaan, mengapa banyak barang-barang bagus dibuang begitu saja oleh orang-orang kaya tersebut?

Apalagi para pemungut ini mengambil dari tempat sampah, yang tentunya nggak mungkin apabila barang-barang tersebut diletakan di sana tanpa disengaja.

Kecenderungan masyarakat terhadap sampah dan limbah, menciptakan subkultur pemburu sampah bermunculan di banyak wilayah metropolitan. 

Para pemungut sampah ini percaya bahwa mereka melakukan pelayanan publik. Mereka percaya bahwa barang-barang yang mereka temukan akan lebih berharga di toko barang bekas daripada dikubur di tempat pembuangan sampah. (*)

https://hai.grid.id/read/071705446/cerita-pemungut-sampah-yang-hidup-dari-barang-barang-buangan-mark-zuckerberg?page=all

Editor: fitriadi
Sumber: Hai
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved