Isu Babi Berbulu Domba Diadukan ke Kominfo, Ternyata Ini Fakta Sebenarnya

Kominfo mendapat laporan mengenai informasi yang mengatakan bahwa ada babi berbulu domba yang dibuat mirip biri-biri hasil ciptaan Austria.

Isu Babi Berbulu Domba Diadukan ke Kominfo, Ternyata Ini Fakta Sebenarnya
Kominfo
Stempel Hoaks pada konten yang masuk aduan di Subdit Pengendalian Konten Internet Kementerian Komunikasi dan Informatika.

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Pengaduan konten negatif yang beredar di lini massa ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melonjak drastis dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Konteks aduannya berbagai macam, seperti hoak, fitnah, ujaran kebencian, isu sara, dan lainnya.

Pada 2016 terdapat 14 pengaduan lalu naik signifikan setahun kemudian nenjadi 281 aduan. Selanjutnya pada 2018 kenaikannya fantastis, yakni 1.440 aduan.

Pada tahun ini angkanya diperkirakan naik lagi dampak dari memanasnya suhu perpolitikan Tanah Air sebelum dan sesudah Pemilu 2019.

Selain data per tahun, Kominfo juga merilis aduan yang masuk setiap harinya di Subdit Pengendalian Konten Internet.

Data yang diterima bangkapos.com, Jumat (26/4/2019), laporan yang masuk pada Kamis (25/4/2019), tercatat 18 aduan.

Dibalut Bikini Merah Muda, Lekukan Tubuh Ayu Ting Ting Jelas Terlihat Saat Berenang di Pantai

Disebut Hotman Paris Istri Gini-gini Sama Ariel, Suami Cut Tari Cuma Ngomong Begini, Salut!

Dari jumlah itu, konten yang mendominasi masih seputar Pilpres. Selain itu ada juga aduan berjudul "Austria Ciptakan Babi Berbulu Domba Untuk Mengecoh Umat Muslim".

Kominfo mendapat laporan mengenai informasi yang mengatakan bahwa ada babi berbulu domba yang dibuat mirip biri-biri hasil ciptaan Austria yang bermaksud untuk mengelirukan umat Islam agar memakannya.

Setelah ditelusuri lebih lanjut faktanya babi yang dimaksud adalah babi mangalitsa.

Babi mangalista.
Babi mangalista. (id.wikipedia.org)

Hewan itu merupakan ras yang paling langka di dunia dan babi jenis tersebut berasal dari Hungaria.

Mangalitsa bukanlah spesies yang benar-benar baru. Dikembangkan pada abad 19, sekitar tahun 1830, dari persilangan antara babi jenis Bakonyi dan Szalontai asal Hungaria dengan babi Sumadia asal Serbia.

"Babi Mangalitsa sendiri dipastikan tidak beredar di Indonesia. Narasi yang dibangun dan disebarkan tidak sesuai fakta sebenarnya. Masyarakat khususnya umat muslim harus lebih teliti dalam memilih barang konsumsi atau gunakan yang tidak mengandung unsur haram," demikian dikutip dari penjelasan Kominfo. (*)

Penulis: tidakada024
Editor: ediyusmanto
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved