HORIZON

Selamat Datang AJI di Pangkalpinang

SECARA organisasi, saya bukan bagian dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

Selamat Datang AJI di Pangkalpinang
Logo Bangka Pos 

SECARA organisasi, saya bukanlah bagian dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Akhir tahun 1999 saat mengawali karier sebagai wartawan di Surabaya, saya berkesempatan untuk mengenal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan kemudian resmi menjadi bagian PWI saat bertugas menjadi kuli disket di Yogyakarta sekira tahun 2010.

Meski bukan anggota AJI, namun saat mendengar ada rencana berdirinya AJI di Pangkalpinang, akhir April 2019 ini, saya seperti bergairah. Bahkan sempat berharap memperoleh undangan resmi dari pihak panitia. Saya Ingin sekali ikut menjadi saksi lahirnya organisasi profesi wartawan yang kita semua mengetahui sangat kental dengan budaya diskusinya ini.

Namun hingga waktu yang ditentukan, undangan yang saya harapkan tak kunjung datang. Sedikit kecewa sebenanarnya, namun tentu kawan-kawan AJI yang membidani embrio Biro AJI Pangkalpinang ini memiliki pertimbangan lain.

Kecewa lantaran tak memperoleh undangan tidak mengurangi gairah saya menyambut kelahiran AJI di Pangkalpinang. Tak berkurang sedikitpun, saya tetap menggelar "karpet merah" untuk AJI Pangkalpinang. "Selamat datang AJI Pangkalpinang di bumi serumpun sebalai."

Gairah akan lahirnya AJI di Bangka Belitung tentu bukannya tanpa sebab. Ada harapan sekaligus tuntutan atas momentum tersebut yang sudah saya list panjang. Dan harapan ini bukan hanya untuk AJI semata, tetapi untuk seluruh entitas jurnalis di Pangkalpinang secara khusus dan Bangka Belitung secara keseluruhan.

Dari catatan yang saya miliki, di Bangka Belitung ini baru ada IJTI dan PWI, dua organisasi profesi resmi yang diakui dewan pers dan eksis di Bangka Belitung. Kita semua tahu, IJTI berisi kawan-kawan jurnalis televisi, sementara PWI yang merupakan organisasi profesi tertua sekaligus terbesar berisi jurnalis-wartawan dari berbagai platform media.

Jujur saya sampaikan, harapan saya terhadap AJI di Pangkalpinang ini justru ada lantaran "rivalitas" AJI dan PWI yang selama ini ada. Kalangan pers tahu persis, sebagai organisasi yang resmi diakui dewan pers, antara AJI dan PWI sering muncul "perselisihan."

Namun perselisihan keduanya tak lebih dari perbedaan sudut pandang tentang cara meningkatkan profesionlisme anggotanya. Keduanya hanya berbeda cara meski konsep berpikirnya dan idiologinya adalah satu, yaitu pers yang berintegritas dan merdeka.  

Saya berharap besar, kedatangan AJI mampu menjadi warna baru pengembangan profesi wartawan di Bangka Belitung. AJI akan menjadi semangat baru sekaligus momentum bagi PWI dan IJTI untuk berbenah. Ibarat munculnya restoran baru, tentu akan membuat restoran lain yang sudah seatle sebelumnya berbenah.

Datangnya restoran pesaing menuntut restoran lama untuk bersih-bersih sekaligus tampil bersih agar pelanggan lebih nyaman. Image positif juga harus kembali dibangun agar tujuan awal restoran ini kembali bisa diraih.

Dan jika berbicara soal organisasi profesi wartawan, tentu maknanya jauh lebih dalam. Sebab sebagai "restoran" organisasi profesi apapun (tentu yang diakui dewan pers) bertujuan untuk membangun karakter dan meningkatkan profesionalisme wartawan.

Baik PWI, IJTI dan AJI kita harapkan benar-benar mampu menjadi lentera dan pijakan moral bagi pewarta-pewarta profesional di Pangkalpinang. Tugas-tugas mulia wartawan harus kembali diingatkan, diluruskan dan ditegakkan untuk mengembalikan integritas profesi yang barangkali mulai terkoyak oleh peradaban.

Selain untuk individu pewarta, PWI, IJTI dan AJI juga harus kembali meluruskan misi luhur dari organisasi profesi yang substansinya adalah menegakkan dan melindungi profesi wartawan, bukan lembaga yang bisa digadaikan.

Terakhir, kita berharap momentum ini menjadi titik balik bagaimana publik dan utamanya pengambil kebijakan bersikap terhadap wartawan, media dan juga organisasi profesi. Kita paham, banyak yang mengail di air keruh dengan sengaja menyalahartikan "kemerdekaan pers" sehingga posisi publik menjadi determinan di hadapan pers. 

Terakhir, kita berharap ada momentum baru untuk menjadikan publik berdaya (baca: cerdas) yang juga menjadi tugas dari pers.  Dengan membangun masyarakat yang cerdas inilah, kita akan menguatkan  integritas profesi. (***)

Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: asmadi
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved