Berita Pangkalpinang

Napi di Babel Bisa Kuliah Meski Berada di Tahanan

Narapidana lembaga pemasyarakatan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bisa menimba ilmu di perguruan tinggi meskipun sedang dalam menjalani proses

Napi di Babel Bisa Kuliah Meski Berada di Tahanan
Bangka Pos/Krisyanidayati.
Kanwil kementerian hukum dan Ham Babel, Sulistiarso dan Direktur Universitas Terbuka Pangkalpinang menandatangi MoU Pendidikan Jarak jauh, di Halaman Kantor Gubernur Babel, Senin (29/4/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Narapidana lembaga pemasyarakatan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bisa menimba ilmu di perguruan tinggi meskipun sedang dalam menjalani proses tahanan.

Hal ini ditandai dengan penandatanganan MoU antara Kepala Kanwil Kemenkuham Babel, Sulistiarso dengan Universitas Terbuka dalam program pendidikan jarak jauh, di Halaman Kantor Gubernur Babel, Senin (29/4/2019).

MoU ini dalam rangka memenuhi hak narapidana untuk mendapatkan pendidikan jenjang sarjana, selain itu juga sejalan dengan gerakan 'Babel Samah Saja' dan juga gerakan satu rumah satu sarjana.

Kepala kantor wilayah kementerian hukum dan Ham Babel, Sulistiarso mengatakan, ini sebagai upaya pemberian hak-hak warga binaan termasuk untuk mengakses pendidikan dengan tetap mengikuti Standar Operasional Prosedur dari jajaran kemasyarakatan.

"Narapidana hanya kita renggut kebebasannya, tapi beberapa hal yang lain mereka tetap mendapatkan haknya termasuk pendidikan, ini salah satu solusi terbaik dengan Universitas Terbuka karena bisa sistem belajar jarak jauh, tidak perlu keluar dari lapas," katanya.

Sulistiarso menyebutkan 80 persen penghuni beberapa lapas di Babel ialah masyarakat Babel, sehingga nantinya setelah bebas mereka sudah menjadi sarjana.

"Begitu mereka bebas mereka akan menjadi sarjana, ini akan dilakukan dengan UT," tambahnya.

Untuk mekanisme pelaksaan pendidikan jarak jauh ini tetap harus mengikuti protap yang ditetapkan kementerian perihal tata laksana dan penanganan warga binaan dalam konteks pembinaan.

Dijelaskannya ada kualifikasi tertentu yang harus melalui proses seleksi terlebih dahulu narapidana yang bisa mengikuti program ini.

"Kita tidak bisa keluar dari protap itu, kalau mereka dalam status beresiko tinggi, mungkin ini menjadi bagian dari proses screening terlebih dahulu akan bisa mengikuti program ini atau tidak," katanya.

Halaman
12
Penulis: krisyanidayati
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved