Breaking News:

Mantan Sales Mengadu ke SPSI, Perusahaan Sebut Mereka Sudah Teken Perjanjian Kerja

Mantan sales mengadukan perusahan tempat bekerja ke SPSI lantaran hanya menerima upah saat mereka berhasil menjual produk

BangkaPos
MENGADU - Mantan sales PT Istana Agung saat konferensi pers di salah satu kafe di Kota Pangkalpinang. 

BANGKAPOS.COM - Merasa hak sebagai karyawan tak dipenuhi oleh pihak perusahaan tempat bekerja, sejumlah mantan karyawan/karyawati PT Istana Agung, dealer kendaraan merek Toyota mengadu ke Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).

Usai mengadukan perusahaan tempatnya bekerja, Anca dan lima mantan karyawan perusahaan tersebut menggelar konferensi pers, Rabu (30/4/2019).

Anca menjelaskan, selama bertahun-tahun bekerja sebagai sales, ia mengaku tak pernah mendapatkan gaji para pekerja umumnya. "Saya termasuk rekan-rekan lainnya ketika masih bekerja sebagai sales di perusahaan itu (PT Istana Agung -- red) sama sekali tidak memperoleh gaji bulanan dari perusahaan," ungkap Anca.

Ia juga mengaku bingung dengan pola manajemen perusahaan. Di satu sisi ia wajib masuk kerja tiap hari atau selama 6 hari kerja. Namun yang diperoleh bukan gaji, melainkan semacam komisi penjualan produk.

"Sistem gaji sales berdasarkan penjualan produk kendaraan artinya gaji dibayar jika ada produk yang terjual," terang Anca.

Hal senada diungkapkan oleh Hendri alias Ayi dan emily yang mengaku masing-masing sudah 5 tahun dan 2 tahun bekerja di dealer Istana Agung. Selain masalah gaji, mereka juga mengaku tak mendapatkan hak cuti dan jaminan asuransi dari perusahaan.

Yesi, mantan sales lainnya mengaku pernah mengadukan persoalan tersebut ke Dinas Tenaga Kerja. "Sebelumnya sempat dilaporkan ke Disnaker namun sampai saat ini belum ada kejelasannya," ungkap Yesi.

Ketua SPSI
Ketua SPSI Provinsi Bangka Belitung, Darusman Aswan ketika dikonfirmasi soal keluhan sejumlah mantan karyawan/karyawati dealer PT Istana Agung baru-baru ini mendatanginya guna melaporkan soal manajemen perusahaan dealer tersebut dibenarkanya.

"Iya betul mereka kemarin malam sempat mendatangi saya. Mereka mengadukan persoalan mereka terkait hak mereka yang diabaikan pihak perusahaan," kata Darusman saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon selulernya, Kamis (2/5/2019) siang.

Darusman melihat persoalan ini dari sisi perspektif peraturan yang berlaku bahwa UU Perburuhan tak mengatur sebuah perusahaan yang mempekerjakan karyawan secara freelance.

Halaman
12
Editor: ibnu Taufik juwariyanto
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved