HORIZON

Hilangnya Kepercayaan di Era Sakit Mental

"Orang-orang yang memberikan vote (suara) tidak menentukan hasil dari pemilu. Namun orang-orang yang menghitung vote itulah yang menentukan hasil ..."

Hilangnya Kepercayaan di Era Sakit Mental
Logo Bangka Pos 

Hilangnya Kepercayaan di Era Sakit Mental

LAHIR dari keluarga biasa, bahkan bisa dibilang miskin, Josef Stalin (1878-1953) sukses menjadi satu dari sekian banyak pemimpim Rusia yang melegenda. Stalin mengawali karier revolusionernya dengan menjadi anggota Partai Buruh Demokrat Sosial Rusia yang berhaluan Marxis pada masa mudanya.

Ia tampil menjadi pemimpin Rusia pascajatuhnya Lenin pada 1924. Stalin mengawali kepemimpinannya di Rusia sebagai rezim partai tunggal oligarkis yang memerintah dengan suara terbanyak, namun dalam perjalanannya, ia menjadi diktator de facto Uni Soviet pada era 1930-an.

Dari sikap diktatornya inilah muncul ungkapan terkenal dari Stalin saat ia berusaha mempertahankan kekuasaannya. Sempat dikutip oleh presiden ILC, Karni Ilyas, Stalin memiliki ungkapan yang melegenda hingga saat ini.

"Orang-orang yang memberikan vote (suara) tidak menentukan hasil dari pemilu. Namun orang-orang yang menghitung vote itulah yang menentukan hasil dari pemilu."

Tidak untuk menjudge proses demokrasi yang sedang berjalan saat ini adalah bentuk lain dari ungkapan Stalin. Tidak juga kemudian kita ingin mengatakan bahwa saat ini KPU sebagai penghitung suara rakyat tengah mempraktikkan apa yang diyakini Stalin saat ia berkuasa era 1930 lalu.

Tapi setidaknya, pemahaman Stalin tersebut membuka mata kita bahwa praktik curang dalam Pemilu itu pernah ada. Pemilih suara bukanlah pihak yang menentukan siapa yang akan terpilih, tetapi siapa yang menghitung suara itulah yang paling menentukan.

Toh benar adanya bahwa, kualitas tim sepakbola tidak menentukan siapa pemenang pertandingan. Peran wasit justru lebih dominan menentukan siapa pemenangnya dalam kasus mafia bola yang baru saja usai jadi topik perbincangan di negeri ini.

Dan mengutip pernyataan seorang kawan, untuk curang wasit tak perlu "nakal" selama 2x45 menit. Untuk memenangkan tim yang diinginkan, wasit cukup melakukan hal-hal sepele di saat krusial. Selebihnya, ia tetaplah sang pengadil yang terlihat jujur dengan jargon fair play-nya.

Terhangat, KPK juga kembali membukakan mata kita, bahwa vonis hakim tidak melulu didasarkan pada proses persidangan. Di Balikpapan, vonis hakim ditentukan oleh rupiah yang mengalir ke majelis hakim, meskipun harus dibayar dengan voorskot alias uang muka.

Halaman
12
Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: asmadi
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved