Ramadan

Mahasiswa Babel di Taiwan Puasa 17 Jam hingga Rindukan Tarawih di Masjid

Anita bercerita banyak tantangan menjalankan ibadah puasa maupun ibadah sunah lainnya.

Mahasiswa Babel di Taiwan Puasa 17 Jam hingga Rindukan Tarawih di Masjid
Istimewa
Anita Viola Yolanda 

BANGKAPOS.COM - Menjalani ibadah puasa di perantauan memang tak mudah, apalagi di negara yang mayoritas penduduknya non muslim. Ditambah waktu puasa yang jauh lebih lama dibandingkan dengan di Indonesia.

Hal inilah yang dialami Anita Viola Yolanda, mahasiswa asal Babel yang tengah mengenyam pendidikan di Shing Wu University, Taiwan melaksanakan ibadah puasa bersama muslim lainnya di Taiwan selama 17 jam.

Cuaca yang tak menentu, turut menjadi tantangan tersendiri seharusnya saat ini sedang menjalani musim panas namun sesekali masih sering turun hujan. Perubahan cuaca ini pula membuat harus ekstra menjaga kondisi kesehatan.

Anita bercerita banyak tantangan menjalankan ibadah puasa maupun ibadah sunah lainnya. Misalnya saja, Tarawih ia bersama mahasiswa Babel lainnya terpaksa menumpang di salah satu bangunan di Kainan University lantaran lokasi masjid yang jauh dari apartemen yang mereka tempati.

Ini merupakan tahun kedua mahasiswi semester tiga ini menjalankan ibadah puasa di Taiwan, tak terlalu sulit baginya menjalaninya namun banyak tantangan yang harus dihadapi. Misalnya, aktivitas kuliah dan magang tetap harus berjalan normal tanpa dispensasi perpanjangan waktu istirahat.

"Puasa disini lebih lama nahan haus dan laparnya, soalnya imsak jam setengah 4 berbuka jam setengah 7, sekitar 17 jam lah," kata mahasiswi jurusan information communication melalui pesan Whatsapp, Selasa (7/5/2019).

Kerinduan akan suasana Ramadan di kampung halaman tentu dirasakannya, perbedaan nuansa Ramadan disikapinya dengan sabar demi meraih cita-cita.

"Puasa disini ya beda sama puasa di Indonesia, dari salat tarawih misalnya. Kalau di Indonesia kan enak bisa salat di Masjid. Kalo disini masjid jauh dari tempat tinggal kita, sekarang anak anak bangka biasanya salat di kainan univerisity, tempat kuliah yang enggak jauh dari apartment. Soalnya kalau salat di apartmen enggak muat," katanya.

Tahun lalu Ia bersama rombongan mahasiwa yang mengikuti program magang bisa tarawih bersama di rooftop apartmen dengan memasang lampu seadanya.

"Tapi karena waktu itu lampu kabel menghalangi pintu, pas kita salat dimarahin dan bubar. Jadi enggak pernah lagi tarawih di apartment setelah kejadian itu. Imam nya disini gantian, kadang adek kelas," sebutnya.

Halaman
12
Penulis: krisyanidayati
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved