Berita Pangkalpinang

Kepala DP3ACSKB Babel Prihatin Ada Siswi yang Nekat Jadi PSK Karena Sering Di Bully Miskin

Susanti mengungkapkan keprihatinannya karena ada siswi yang menjadi korban bullying akibat sering diejek miskin dan tak punya uang oleh temannya

Kepala DP3ACSKB Babel Prihatin Ada Siswi yang Nekat Jadi PSK Karena Sering Di Bully Miskin
Bangkapos.com/Muhammad Rizki
Kepala DP3ACSKB Provinsi Bangka Belitung, Susanti. 

BANGKAPOS.COM-- Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3ACSKB) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Susanti mengungkapkan keprihatinannya karena ada siswi yang menjadi korban bullying akibat sering diejek miskin dan tak punya uang oleh teman sebayanya, akhirnya nekat menjadi seorang Pekerja Seks Komersial (PSK). 

"Karena sering di bully miskin, tidak punya uang, seorang anak akhirnya menjadi seorang PSK," ungkap Susanti, Kamis (9/5/2019) kepada bangkapos.com.

Dia sudah berkeliling ke seluruh kota/kabupaten di Bangka Belitung ternyata masih mendapatkan laporan dari para siswa, jika disekolah mereka masih terjadi tindak bullying.

Diakui Susanti, fenomena sekarang ini dulu kasus prostitusi anak ada dikisaran umur 16 hingga 17 tahun, namun sekarang terjadi dikisaran umur 13 hingg 14 tahun, dan yang paling membuat miris sang mucikari adalah teman si anak itu sendiri yang baru berusia 16 tahun.

"Ini tidak terjadi di kota besar, ini terjadi di kota kita sendiri." ungkap Susanti.

Sejak tahun 2017 sampai sekarang, Susanti dan timnya sudah mempelajari hal lain apa yang menyebabkan seorang anak bisa terjerumus ke dalam prostitusi anak. Dia mendapatkan jawaban jika semuanya dikarenakan masalah ekonomi.

Diakuinya, faktor penyebab prostitusi anak ini terjadi karena seringnya dibully masalah ekonomi, pengawasan dari keluarga yang sangat kurang, dan godaan dari temannya yang menjadi mucikari, yang membuat si anak ini lama-kelamaan akan tergelincir masuk ke dalam prostitusi anak.

Susanti mengaku jika dirinya merasa prihatin dan miris melihat fakta lapangan yang terjadi saat ini.

Oleh karena itu ia mengimbau agar hal ini bisa segera ditanggapi, karena sangat disayangkan apabila mereka menjadi korban bullying, dan kekerasan. Apalagi  jumlah anak yang ada di Bangka Belitung  cukup besar sebanyak 41.813 jiwa.

Ia mengatakan bahwa anak adalah aset negara, generasi penerus dan pelurus bangsa, sehingga apabila anak tersebut rusak masa depannya, siapa yang akan menggantikan  membangun negara ini. (Bangkapos/Muhammad Rizki)

Penulis: Maggang (mg)
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved