Mengapa Masjid Identik dengan Kubah? Ternyata Ini Asal Usulnya

Kok, masjid enggak ada kubahnya”? Begitu komentar serombongan ibu-ibu pengajian di Masjid Al Irsyad, Kota Baru Parahyangan.

Mengapa Masjid Identik dengan Kubah? Ternyata Ini Asal Usulnya
(Shutterstock)
Masjid di malam hari 

BANGKAPOS.COM-- Serombongan ibu-ibu pengajian di Masjid Al Irsyad, Kota Baru Parahyangan tampak heran saat tiba dimasjid tersebut. Pasalnya masjid karya Ridwan Kamil tersebut berbentuk kubus, tanpa ada embel-embel kubah di atapnya.

Memang, masyarakat Indonesia memang masih mengidentikkan kubah dengan masjid.

MASJID AL IRSYAD

LOKASI:MASJID AL IRSYAD, KOTA BARU PARAHYANGAN, BANDUNG /DESAINER :URBANE /FOTO: Rahma Yulianti / MASJID AL IRSYAD

Sebagian mengganggap, tanpa kubah, masjid seperti kehilangan jati dirinya.  Sebagian lagi mengira, kubah adalah ciri khas bangunan Islam.

Benarkah demikian?

Asal Kubah

Kubah (dome) awalnya dibangun oleh bangsa Romawi di tahun 100 Masehi.

Sebelum itu, untuk membentuk sebuah ruang besar diperlukan tiang-tiang penyangga atap yang besar pula.

Jumlahnya pun tak bisa sedikit hingga amat sulit membuat ruang yang luas tanpa tersekat kolom-kolom.

Bangsa Romawi kemudian menemukan teknik membuat kubah dan menerapkannya dalam bangunan-bangunan dan kuil agung mereka.

Hagia Sofia, Istanbul, Turki dan Hagia Irene yang berada di sebelahnya. Dua-duanya merupakan gereja berarsitektur Byzantium yang menggunakan kubah.
FOTO Rahma Yulianti I Hagia Sofia, Istanbul, Turki dan Hagia Irene yang berada di sebelahnya. Dua-duanya merupakan gereja berarsitektur Byzantium yang menggunakan kubah.

Bangunan awal yang menggunakan atap kubah beton adalah Pantheon, yang terletak di Roma, Italia.

Bangunan yang berfungsi sebagai kuil pemujaan Dewa Romawi ini dibuat tahun 126 Masehi.

Konstruksi kubah pun berkembang hingga era Kekaisaran Byzantium di abad ke-4.

Kekaisaran yang juga dikenal dengan nama Eastern Roman Empire ini merupakan penerus kekaisaran Romawi, berbahasa Yunani, dan menganut agama Kristian Ortodok.

Di bawah pimpian Justinian The Great, wilayah Byzantium menyebar hingga ke daratan Turki. Istanbul—yang saat itu bernama Konstantinopel (Constantinople)— menjadi ibukotanya. 

Kontruksi kubah yang dibawa oleh bangsa Romawi kemudian dikembangkan oleh para arsitek zaman Byzantium.

Salah satu teknik yang berhasil dibuat adalah teknik pendentive, yakni teknik menggabungkan beberapa kubah sehingga mendapatkan ruangan yang lebih luas.

Teknik ini diaplikasikan di tahun 532, di sebuah gereja termahsyur yang dikenal dengan nama Hagia Sofia.

Pada masa itu, banyak bangunan lain yang dibangun antara lain Gereja Hagia Irene di Istanbul dan Gereja St. Mark Basilica di Venesia, Italia. 

Sampai ke Arab

Di tahun 1453, Konstantinopel jatuh ke tangan Kesultanan Islam Ottoman di bawah pimpinan Sultan Mehmed II.

Di zaman keemasan ini, banyak bangunan yang dibuat dengan mengadopsi teknik pendentive.

Salah satu arsitek terkenal yang sering menggunakan teknik ini adalah Manar Sinan.

Bentuk kubah juga dipakai di makam Jalaludin Rumi, penyair termahsyur. Makam ini terletak di Konya, Turki.

FOTO :Rahma Yulianti I Bentuk kubah juga dipakai di makam Jalaludin Rumi, penyair termahsyur. Makam ini terletak di Konya, Turki.

Arsitek favorit sultan ini membangun banyak masjid antara lain Masjid Suleymanie di tahun 1550, masjid yang merupakan inspirasi dari pembuatan Blue Mosque (Sultan Ahmet Mosque). 

Penaklukan Islam atas kota-kota di bawah kekaisaran Byzantium, termasuk Syiria dan Andalusia (Spanyol), membawa pengaruh dalam perkembangan arsitektur Islam. 

Bangunan-bangunan masjid pun akhirnya dibangun dengan menggunakan kubah, seperti halnya masjid yang berada di wilayah Kesultanan Ottoman.

Konsep bangunan berkubah ini juga sampai ke dataran Eropa.

Konon, Byzantium adalah akar dari era Rennaisance yang berkembang pesat di Eropa pada abad ke-15 hingga abad ke-17.

Itu sebabnya, kita dapat melihat banyak bangunan berkubah di Eropa, antara lain St. Peter Bassilica di Vatikan.

Dulu Berkubah?

Jika bicara tentang sejarah arsitektur Islam, tentu tak akan lepas dari masa awal Islam dilahirkan, yakni sekitar abad ke-7. 

Di saat itu, Nabi membuat beberapa masjid antara lain Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa.

Memang tak ada yang dapat menggambarkan bentuk pasti bangunan-bangunan tersebut, namun tak ada keterangan yang menyebutkan bahwa bangunan yang dibuat Nabi tersebut menggunakan kubah.

Bentuk awal Masjidil Haram hanya berupa bangunan sederhana berbentuk kotak.

Pun demikian halnya dengan Masjid Nabawi dan Masjid Al Aqsa.

Adapun bangunan yang kita lihat sekarang ini—yang memiliki kubah—adalah masjid yang telah mengalami renovasi dan pengembangan berkali-kali.

Tercatat dalam sejarah, Masjidil Haram pernah direnovasi di tahun 1570.

Desainnya dibuat oleh Manar Sinan, yang mengganti atap datar masjid dengan kubah berhias kaligrafi.

Ternyata begitu IDEA lovers! Menarik! (*)

Artikel ini telah tayang di Ideaonline dengan judul Apakah Masjid Harus Berkubah? Ternyata Ini Alasannya, Dekat dengan Asal Usul Gereja

Editor: nurhayati
Sumber: Idea
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved