Horizon

Catatan Jelang 22 Mei 2019

TIDAK tepat rasanya jika kita tidak bicara tentang Rabu, 22 Mei 2019 yang akan kita lalui bersama dua hari lagi.

Catatan Jelang 22 Mei 2019
Bangkapos
Bangkapos

TIDAK tepat rasanya jika kita tidak bicara tentang Rabu, 22 Mei 2019 yang akan kita lalui bersama dua hari lagi.

Hari tersebut begitu spesial, bahkan jauh lebih spesial jika dibandingkan dengan 17 April 2019 yang telah kita lewati 33 hari lalu.

Sekadar mengingatkan, urusan 5 menit kita di bilik suara dan penantian panjang hasil pemilu yang bakal kita saksikan 22 Mei mendatang adalah rentetan proses yang begitu panjang.

Dengan mengabaikan beberapa tahapan admisnitratif, maka Pemilu 2019 secara resmi sudah dimulai sejak 3 September 2017 hingga 20 Februari 2018 dengan agenda pendaftaran dan verifikasi peserta pemilu.

Yang juga perlu kita pahami dan sepakati bersama, 22 Mei 2019 memang final penghitungan suara nasional, tetapi bukan merupakan akhir dari tahapan Pemilu 2019.

Tahapan Pemilu 2019 akan berakhir pada Agustus-Oktober 2019 dengan agenda pengucapan sumpah dan janji presiden dan wakil presiden terpilih.

Sebelum itu ada tahapan lain yang perlu kita pahami, yaitu 23 Mei 2019 hingga 15 Juni 2019 yang nomenklatur alias nama agendanya adalah penyelesaian sengketa hasil pemilu presiden dan wakil presiden.

Undang-undang telah mengatur sejak awal, jika ada pihak yang merasa keberatan dengan hasil pemilu, maka diberikan jalan untuk melakukan langkah hukum.

Dan Mahkamah Konstitusi menjadi pengadil untuk menyelesaikan kemungkinan adanya sengketa dalam Pemilu.

Tentu tahapan ini bersifat opsional, yang artinya tidak harus dilaksanakan, bahkan semua berharap tahapan ini tak perlu dilalui.

Namun toh jika ada yang merasa dirugikan, Undang- undang memberi ruang untuk melakukan upaya konstitusional.

Menjelang tahapan 22 Mei, KPU berada di bayang-bayang dua narasi yang dibangun oleh kedua kubu yang bertanding di Pemilu 2019.

Satu kubu membangun narasi kecurangan, sementara kubu yang lain membangun narasi jurdil.

Narasi ini sama-sama dibangun secara massif dan sama-sama meyakinkan sehingga tak ada yang bisa menjawab, mana yang benar dan mana yang salah.

Situasi semakin tak menentu, dimana kita tengah memasuki era "gagap digital" yang semakin menguatkan ketidakjelasan itu sendiri.

Yang pasti bangsa ini menyisakan dua hari tersisa untuk menyiapkan catatan apa yang akan ditorehkan pada 22 Mei 2019.

Kehormatan sekaligus masa depan bangsa dan negara ini ada di tangan KPU.

Kita semua berharap, di panggung terakhir ini, KPU menunjukkan integritas serta dedikasi yang kuat.

Saatnya KPU membuktikan, dimanakah posisi mereka di antara dua narasi yang mengiringinya.

Namun KPU tak bisa sendiri, saat itu juga, media juga harus mengambil peran strategis di waktu krusial.

Media, utamanya media yang menggunakan kanal atau frekuensi publik harus menampilkan secara utuh "pementasan agung" 22 Mei 2019 dengan pemain tunggal KPU.

Alangkah indahnya, jika panggung 22 Mei nanti, tak ada lagi framing dan narasi partisan sehingga publik menjadi tercerahkan.
Saat itulah, apa yang dihasilkan KPU tak hanya memiliki makna legal secara hukum admisnitratif, tetapi juga legitimate. (*)

Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved