Ramadan

Nuzulul Quran - Sejarah Turunnya Al Quran, Nabi Muhammad Didatangi Jibril saat Menyepi di Gua Hira

Turunnya Al Quran sendiri terjadi pada malam 17 Ramadhan, tepatnya saat Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun.

Nuzulul Quran - Sejarah Turunnya Al Quran, Nabi Muhammad Didatangi Jibril saat Menyepi di Gua Hira
www.kompasiana.com/rosidinkaridi
Jemaah haji antre masuk Gua Hira. 

BANGKAPOS.COM - Nuzulul Quran 17 Ramadan 1440 H jatuh pada Selasa 21 Mei 2019.

Nuzulul Quran jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti turunnya Al Quran.

Nuzulul Quran secara istilah artinya peristiwa penurunan Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia.

Tentu turunnya Al Quran ini sebagai pencerah bagi umat Islam yang kala itu masih dipimpin oleh kelompok jahiliyah.

Hingga Nabi Muhammad diutus ke tanah Arab untuk meluruskan kembali ajaran-ajaran mereka yang sesat.

Turunnya Al Quran sendiri terjadi pada malam 17 Ramadhan, tepatnya saat Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun.

Nabi Muhammad SAW Menyepi di Gua Hira

Melansir dari satujam.com soal sejarah turunnya Al Quran, ketika usia Nabi Muhammad SAW mendekati 40 tahun, rupanya beliau merasa tak nyaman melihat pemandangan kemusyrikan yang terjadi di sekitarnya.

Ia pun meminta izin pada sang istri Khadijah untuk merenungkan dan mengasingkan diri.

Rupanya keinginan Nabi Nuhammad SAW ini sudah diatur Allah SWT.

Khadijah pun memberikan bekal roti gandum dan air.

Tempat yang dituju Nabi Muhammad adalah Gua Hira yang berada di Jabal Nur berjarak kurang lebih 2 mil dari Mekkah (Jabal al Nour - جبل النور , The Mountain of Light).

Dalam terjemahan bebas, Jabal sendiri berarti gunung, sementara Nur berarti cahaya.

Gua Hira adalah sebuah gua kecil dengan panjang hanya 4 hasta dan lebar 1,75 hasta.

Nabi Muhammad tinggal di dalam Gua Hira selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Waktunya dihabiskan untuk beribadah serta merenungkan berbagai fenomena alam dan kemahakuasaan penciptaan yang menyertainya.

Jibril Turun Membawa Wahyu (Hari Turunnya Al Quran)

Allah SWT memilih menurunkan wahyunya kepada Nabi Muhammad SAW di usia 40 tahun ini bukan tanpa alasan.

Usia 40 tahun merupakan puncak kematangan jiwa manusia.

Saat usia Nabi Muhammad SAW genap empat puluh tahun, tanda-tanda kenabian itu mulai jelas.

Di antaranya, bebatuan di Mekkah menghaturkan salam kepada beliau.

Beliau juga mengalami ru’yah shiddiqah (mimpi hakiki). Mimpi ini tampak begitu nyata, sejelas terangnya waktu fajar.

Mimpi ini pun sempat dituturkan Aisyah dalam hadits berikut ini yang artinya:

“Turunnya wahyu kepada Rasulullah diawali dengan ru’yah shidiqah (mimpi hakiki) dalam tidur.

Beliau bermimpi dengan mimpi yang sangat jelas, sejelas terangnya waktu fajar.

Kemudian beliau mulai suka mengasingkan diri. Beliau biasa mengasingkan diri di Gua Hira.

Beliau ber-tahannuts (beribadah) di dalamnya beberapa malam lalu pulang kepada keluarganya karena harus berbekal untuk tinggal di sana.

Kemudian beliau pulang kepada Khadijah lalu membawa bekal untuk keperluan yang sama hingga turunlah wahyu itu saat beliau sedang berada di Gua Hira.

Malaikat datang dan berkata, ‘Bacalah!’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca’.”

Rasulullah mengisahkan, “Malaikat Jibril memegangku dan mendekapku sampai aku merasa begitu payah, lalu dia melepaskanku. Ia berkata lagi, ‘Bacalah!’ Aku menjawab, Aku tidak bisa membaca.’

Malaikat Jibril memegangku dan mendekapku untuk kedua kalinya hingga aku merasa begitu payah, kemudian melepaskan aku. Ia berkata kembali, ‘Bacalah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’

Malaikat Jibril memegangku dan mendekapku untuk ketiga kalinya hingga aku merasa begitu payah, kemudian dia melepaskan aku.

Kini ia membaca, "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya’.” (QS. Al-Alaq: 1-5).

Maka dari itu, wahyu yang pertama kali turun adalah Quran Surat Al Alaq ayat 1-5.

Nabi Muhammad Pulang dalam Keadaan Menggigil Ketakutan

Muhammad pulang membawa wahyu itu dengan ketakutan.

Beliau mencari Khadijah binti Khuwailid dan berkata, “Selimuti aku! Selimuti aku!” Khadijah menyelimutinya sampai reda rasa takutnya.

Lalu Muhammad bertanya tak mengerti, “Apa yang terjadi padaku?” Beliau menceritakan semuanya kepada istri tercintanya. “Aku betul-betul khawatir akan keselamatan diriku,” ujar beliau menutup cerita.

Khadijah menenangkannya, “Sekali-kali tidak. Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Engkau orang yang suka menyambung silaturrahim, memikul beban orang yang susah, memberi piutang kepada yang membutuhkan, memuliakan tamu, dan membela kebenaran.”

Ketika Nabi Muhammad diselimuti Khadijah, rupanya Malaikat Jibril juga memberikan wahyunya dalan surat Al Muddatsir.

1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!
3. dan Tuhanmu agungkanlah!
4. dan pakaianmu bersihkanlah,
5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
( QS Al-Muddatstsir: 1-7)

Dilansir dari Youtube ceramah Ustadz Abu Himam Zainuddin, diriwayatkan oleh asy-Syaikhoon (al-Bukhori dan Muslim) yang bersumber dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Ketika aku telah selesai uzlah-selama sebulan di gua Hira-, aku turun ke lembah. Sesampainya ke tengah lembah, ada yang memanggilku, tetapi aku tidak melihat seorangpun di sana. Aku menengadahkan kepala ke langit. Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah mendatangiku di Gua Hira.

Sedang duuduk antara kursi langit dan bumi. Maka aku takut.

Aku cepat-cepat pulang dan berkata (kepada orang rumah): “Selimuti aku ! Selimuti aku !”

Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-7) sebagai perintah untuk menyingsingkan selimut dan berdakwah.

Untuk meyakinkan, Khadijah Ajak Nabi Muhammad kepada Waraqah

Khadijah mengajak Muhammad menemui Waraqah ibn Naufal ibn Asad ibn Abdil Uzza, sepupu Khadijah ini adalah penganut Nasrani yang taat pada masa jahiliyah.

Waraqah mampu menulis kitab dalam bahasa Ibrani, bahkan menulis Injil dalam bahasa Ibrani dengan bagus.

Khadijah berkata kepadanya, “Oh sepupuku, dengarkanlah cerita anak saudaramu ini!”

Waraqah pun bertanya, “Wahai saudaraku, apa yang kaulihat?”

Maka berceritalah Muhammad tentang apa saja yang telah beliau lihat.

Waraqah kemudian mengomentari, “Ini adalah Namus yang pernah turun kepada Musa a.s. Andai saja aku masih muda saat itu nanti. Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu.”

Spontan Muhammad bertanya, “Apakah kaumku akan mengusirku?”

Waraqah menjawab, “Ya. Tidaklah seseorang membawa seperti yang kaubawa, kecuali pasti akan dimusuhi.

Andai aku masih hidup saat engkau diutus, aku akan menolongmu dengan sungguh-sungguh.”

Wahyu Sempat Terputus

Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim terdapat teks yang menunjukkan bahwa wahyu terputus sewaktu Muhammad turun gunung.

Dari Youtube soal Hadits Tentang Asbabun Nuzul Surat Al Muddatstsir, oleh Ustadz Abu Himam Zainuddin, Rasulullah SAW pun sempat gundah gulana karena telah beberapa hari wahyu tidak lagi turun.

Beberapa pendapat banyak yang mengemukakan soal berapa lama terputusnya wahyu.

Ada yang mengatakan 2 tahun, sebagian lagi mengatakan hanya 2 bulan, 40 hari, hingga mengatakan 3 hari saja.

Namun tak ada bukti otentik soal berhentinya wahyu, namun berhentinya wahyu ini memang benar adanya.

Hikmah berhentinya wahyu dahulu adalah untuk menentramkan hati Rasulullah SAW.

Hal tersebut karena Rasul kaget dan terguncang kondisi psikologisnya.

Maka dari itu, Khadijah pun mempertemukan Nabi Muhammad dan pamannya Waraqah.

Setelah tenang, barulah turun wahyu kedua, yakni QS Al Mudatsir.

Baca: Huni Rutan Pondok Bambu, Sang Kakak Ungkap Kondisi Memprihatinkan Dhawiya : Bajunya Sampai Basah

Hikmah berikutnya adalah membedakan masa nubuwah dan masa risalah.

Wahyu pertama QS Al Alaq ini sebagai surat nubuwah, sebagai bukti Rasul allah diangkat jadi nabi.

Dan belum ada perintah untuk mendakwahkan pada umatnya. Hanya semata-mata ilmu untuk beliau.

Sementara dalam wahyu kedua, QS Al Mudatsir, Nabi Muhammad SAW sudah menjadi Rasul.

Dalam surat Al Mudatsir, sudah ada perintah Nabi Muhammad SAW untuk mendakwahkan kepada umatnya.

Imam Bukhari di dalam Kitabut Ta’bir menuturkan kondisi beliau sebagai berikut.

Wahyu untuk beberapa waktu tidak turun. Berdasarkan riwayat yang saya ketahui, Nabi s.a.w merasa gundah dan gelisah, hal ini diekspresikannya dengan bersicepat ke puncak gunung, tempat Gua Hira berada, lalu bermaksud menjatuhkan diri ke bawah.

Tiba-tiba Jibril menampakkan diri dan berkata, “Hai Muhammad, engkau betul-betul seorang Rasul Allah!” Maka hatinya kembali tenang, jiwanya kembali tenteram lalu beliau pun pulang.

Demikianlah sejarah turunnya Al Quran secara singkat, yang merupakan awal dimulainya masa kenabian Rasul Muhammad SAW yang memiliki Al Quran sebagai mukjizat yang luar biasa.

Berikut video lengkapnya: 

Artikel ini telah tayang di tribunnewsbogor.com dengan judul Sejarah Turunnya Al Quran, Tempat dan Bagaimana Nabi Muhammad SAW Menerima Wahyu Pertama Kali
Penulis: Yuyun Hikmatul Uyun

Nuzulul Quran dan 4 Peristiwa Besar Bersejarah yang Terjadi di Momen 17 Ramadhan

Nuzulul Quran, Begini Cara Rasulullah SAW Memperingati Turunnya Al Quran di Bulan Ramadhan

Nuzulul Quran 17 Ramadhan 21 Mei 2019, Perbanyak Amalan dan Baca Doa Pada Malam Turunnya Al Quran

Fakta Tentang Nuzulul Quran, Teori Turunnya Alquran dan Cara Komunikasi Nabi Muhammad dengan Jibril

Editor: fitriadi
Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved