VIDEO : Tausiyah Ustad Wafiudin dalam Buka Puasa Bersama PT Timah

Ustadz Wafiudin dalam tausiyah mengatakan manusia lebih terseret untuk mengikuti apa yang dia lihat dibandingkan dengan apa yang dia dengar.

BANGKA POS.COM, BANGKA -- PT Timah Tbk dalam kegiatan Safari Ramadhan 1440 H dan Buka Puasa Bersama di Masjid Al Furqon Pangkalpinang, Senin (20/05/2019)  mengundang penceramah Ustadz Wafiudin untuk memberikan tausiyah dan memimpin doa menjelang berbuka puasa.

Ustadz Wafiudin dalam tausiyah mengatakan manusia lebih terseret untuk mengikuti apa yang dia lihat dibandingkan dengan apa yang dia dengar.

"Maka hal ini merupakan tantangan bagi para Agamawan, para ustadz, kiyai, pendeta dan semuanya, tidak mungkin kita mengajarkan, mendidik umat hanya dengan memperdengarkan kalau tidak memperlihatkan keteladanan," kata Wafiudin.

Ditambahkannya, selain itu juga tantangan bagi para orangtua dalam mengajarkan anaknya.

"Nak kamu harus menjadi anak yang sholeh, kalau sudah mendengarkan suara azan segera berangkat sholat ke masjid, itu yang dididik trlinganya. Tapi saat terdengar azan Magrib yang dilihat anaknya, emak dan bapaknya lagi ngapain. Ada yang ibu bapaknya masih asyik nonton TV, chatting, kira-kira si anak itu berangkat sholat ke masjid ataukah ikut jejak ibu bapaknya?" ujarnya.

Dilanjutkannya, manusia itu cenderung lebih mengikuti apa yang dilihatnya dibandingkan dengan apa yang dia dengar

"Begitu juga di perusahaan, para pimpinan mulai dari pimpinan unit, manager sampai general manager, sulit kita mengatakan kamu kerja harus jujur, disiplin, datang tepat waktu sebab yang dididik kupingnya, tapi kita tidak memberikan contoh keteladanan," tukasnya.

Dalam dunia pendidikan dalam sebuah riset mengatakan kalau kita belajar dengan mendengar setelah 24 jam apa yang kita dengar itu hanya tersisa 10 persen.

"Kemarin bapak-bapak ikut Sholat Jumat, apa isi khutbahnya pasti sudah banyak yang lupa, karena dalam 24 jam apa yang kita dengarkan hanya tersisa 10 persen sedangkan saat ini sudah lebih dari 24 jam," jelasnya.

Sedangkan apabila belajar dengan cara apa yang kita lihat maka setelah 24 jam itu masih tersisa 30 persen.

Sementara kalau kita mengalami dan merasakan maka setelah 24 jam yang tersisa dalam ingatan lebih tinggi, yakni 70 persen.

"Karena itu dalam pelatihan-pelatihan itu lebih ditekankan belajar dengan sistem learning by doing atau belajar sambil melakukan dan learning by experiencing atau belajar dengan mengalami maka orang akan lebih mudah ingat dan terkesan," tukasnya. (Bangkapos.com/Edwardi)

Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved