Berita Pangkalpinang
Kadindik Babel : Jangan Ragu dengan Sekolah Swasta
Sebetulnya kalau siswa tidak ngotot di sekolah negeri, itu tertampung semua. Yang jadi masalah, banyak
Penulis: Dedy Qurniawan | Editor: Iwan Satriawan
BANGKAPOS.COM, BANGKA--Daya tampung tak akan menjadi masalah yang repot seandainya peserta didik tidak ngotot untuk sekolah di sekolah negeri.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kepulauan Bangka Belitung M. Soleh saat ditanyai mengenai daya tampung sekolah di Babel menjelang tahun ajaran baru 2019/2020.
Menurutnya, Babel sudah memiliki banyak sekolah seperti SMP/MTs, SMA/SMK/MA baik negeri dan swasta, hingga pondok pesantren dan paket C.
"Sebetulnya kalau siswa tidak ngotot di sekolah negeri, itu tertampung semua. Yang jadi masalah, banyak orientasi dan mindset-nya harus ke sekolah negeri, kalau tidak, tidak mau sekolah, ini yang salah," ucap Soleh ditemui di Kantor Gubernur, Selasa (28/5/2019)
Berdasarkan data Dindik Babel, tahun ini ada sekitar 22 ribu lulusan SMP Sederajat di Babel. Adapun jumlah SMA/SMK di Babel adalah 122 sekolah (87 negeri, 35 swasta).
Lalu berdasarkan data bidang Pendidikan Madrasah Kemenag Babel, ada 47 MTs Negeri dan Swasta dan 27 MA Negeri dan swasta di Babel.
Soleh mengatakan, memang ada keterbatasan sekolah negeri dalam menampung siswa.
Keterbatasan itu dilatarbelakangi ketersediaan ruang belajar dan ketentuan jumlah siswa per rombongan belajar (rombel) sebanyak 36 siswa, khusus sekolah kesehatan dibatasi 32 siswa per rombel. Jika satu sekolah hanya memiliki enam ruang belajar, maka siswa yang bisa ditampung adalah 216 siswa.
"Itu lah yang bisa diterima sekolah negeri, maka sekolah swasta siap menerima siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri ini," katanya.
"Kalau ditampung sekolah negeri semua, tidak tertampung. Makanya ada alternatif sekolah swasta,"ucapnya lagi.
Menurut Soleh, pemerintah sudah menjanjikan tidak ada perbedaan baik sekolah negeri maupun swasta. Dia menyebut, banyak sekolah swasta juga telah berprestasi.
Ini bisa dibaca dari bagaimana hasil UN 2018/2019 baik di tingkat SMP Sederajat ataupun SMA Sederajat.
"Yang banyak kan justru sekolah swasta. Banyak yang bagus-bagus," ucap Soleh.
Dia mengakui, kalau disebut hanya sekolah swasta tertentu yang memiliki reputasi bagus.
Permasalahan ini dipandang sebagai permasalahan dilematis. Pasalnya di satu sisi, operasional sekolah swasta sangat tergantung pada jumlah siswa, di sisi lain sekolah swasta belum menjadi pilihan banyak masyarakat.
"Operasional sekolah itu sangat tergantung jumlah siswa, kalau sedikit bagaimana membuat sekolah itu bagus. Yang bagus-bagus itu sebut saja seperti Al Bina, mereka juga punya SMA. Artinya sekarang jangan ragu lah sama sekolah swasta.
Dulu, saat belum banyak sekolah negeri, sekolah swasta kok yang berperan, Taman Siswa, di Babel dulu ada SMA Sriwijaya, swasta juga. Jangan dianggap remeh ," katanya. (bangkapos.com / dedyqurniawan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/kepala-dindik-babel-m-soleh.jpg)