Lebaran Tak Akan Lengkap Tanpa Kehadiran Ketupat, Inilah Asal-Usul Ketupat

Bukan tanpa sebab pula hidangan yang berasal dari beras atau ketan ini menjadi hidangan tradisi

Lebaran Tak Akan Lengkap Tanpa Kehadiran Ketupat, Inilah Asal-Usul Ketupat
wikimedia.org
KETUPAT ajah 

Nah, untuk alasan itulah Yuli memasak banyak ketupat. Ia membandrolnya dengan harga cukup terjangkau, yaitu Rp 2.000 per ketupat ukuran sedang.

Selain Yuli, masih banyak orang lain di luar sana yang menjual ketupat matang untuk keperluan hari taya Idul Fitri.

"Tiap Lebaran ya harus ada hidangan ketupat karena sudah tradisi," kata Suripah, salah satu  warga di Kedoya Utara yang memesan ketupat matang di Ibu Yuli, Kamis (14/6/2018).

Bukan tanpa sebab pula hidangan yang berasal dari beras atau ketan ini menjadi hidangan tradisi merayakan Lebaran di Indonesia.

Menurut catatan sejarah, ketupat lekat dengan Islam bermula dari masa Sunan Kalijaga melakukan syiar Islam pada abad ke 15 hingga 16 Masehi.

Makna ketupat Penulis buku "Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia" Fadly Rahman mengatakan, Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai-nilai ke-Islaman.

Ketupat atau disebut kupat oleh masyarakat Jawa dan Sunda, menurut Fadly, menyimbolkan dua hal, yakni ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan dan laku papat atau empat laku yang juga tercermin dari wujud empat sisi dari ketupat.

Menurut dia masing-masing sisi dari ketupat itupun memiliki makna. Maka pertama adalah Lebaran (asal kata dasar lebar) yang berarti pintu ampun dibuka untuk orang lain.

"Kedua Luberan (asal kata dasar luber) yang bermakna melimpah dan memberi sedekah pada orang yang membutuhkan," ucap Fadly Sabtu (24/6/2017).

Lalu ketiga, lanjut dia, adalah Leburan (asal kata dasar lebur) yang punya arti melebur dosa yang dilalui selama satu tahun.

Halaman
123
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved