Berita Pangkalpinang

Harga Karet di Babel Tak Naik Seperti di Sumsel, Menurut Dinas Pertanian Ini Penyebabnya

Dinas Pertanian Babel menyatakan, karet di Babel saat ini masih dijual dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kilogram.

Harga Karet di Babel Tak Naik Seperti di Sumsel, Menurut Dinas Pertanian Ini Penyebabnya
Bangkapos.com/Dede Qurniawan
Kepala Dinas Pertanian Babel Juaidi 

BANGKAPOS.COM-- Naiknya harga karet di Sumatera Selatan (Sumsel) saat ini tak diikuti dengan naiknya harga karet di Babel. Seperti diberitakan Sriwijaya Post, sebelum lebaran lalu, karet di Sumsel bahkan ada yang dijual hingga Rp 10 ribu per kilogram.

Sedangkan dari data, Dinas Pertanian Babel menyatakan, karet di Babel saat ini masih dijual dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kilogram, sementara di Sumsel masih berada di kisaran Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per kilogram.
"Memang ada selisih Rp 1.000 sampai Rp 2.000," kata Kepala Dinas Pertanian Babel Juadi kepada Bangka Pos, Selasa (11/6/2019)

Menurutnya, harga karet di dua wilayah ini tak bisa dipukul rata. Perbedaan komoditas di kedua wilayah ini terletak pada kualitas karet yang dihasilkan, khususnya oleh kebun masyarakat, sebab, karet yang dinilai bagus dijual dengan harga yang lebih tinggi. "

"Yang bagus itu sudah menggunakan asam semut. Kemudian cara pengolahannya sudah bagus. Itu di Sumsel. Mayoritas di sana sudah seperti itu. Di Babel baru sebagian. Ada yang bagus, ada yang tidak bagus. Ada juga yang nakal, dicampur dengan kotoran sehingga harganya menjadi murah," bungkap Juaidi

Kata Juaidi, Sumsel juga telah didukung dengan adanya Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB). Bokar adalah akronim dari bahan olahan karet.

UPPB diisi oleh kelompok masyarakat petani yang sudah terlatih dan bertugas untuk meningkatkan hasil pengolahan karet dan melakukan kemitraan dengan para pembeli. Sehingga sudah ada jaminan pasar dan harga di sana karena kualitasnya dinilai baik.

Kemudian, Karet Babel masih dijual ke luar daerah dalam bentuk karet kering. Pasalnya Babel juga belum memiliki unit pengelolaan turunan karet.

Sementara di Sumsel, sebagian dijual dalam bentuk karet, sebagian lagi berupa hasil pengolahan seperti untuk bahan vulkanisir ban dan campuran aspal.

Menurut Juaidi, perlu sosialisasi yang masif kepada para petani karet di Babel mengenai pentingnya kualitas kareg. Kepastian pasar dan harga yang mengikuti kualitasnya juga perlu dibentuk.

"Kendalanya, petani kita inginnya yang praktis-praktis saja. Mau karetnya cepat beku, masih berpikir kualitas bagus dan tidak bagus sama saja harganya dan mungkin masih ada tengkulak di desa, UPPB belum ada, sehingga mengolahnya seadanya," katanya.

Juaidi membenarkan kondisi murahnya harga karet di Babel membuat para petani ramai-ramai beralih pada komoditas pertanian lainnya yang harganya dinilai lebih baik. Namun ia menilai, hal itu keliru, sebab, komiditi punya pasar tersendiri.

Oleh karena itu, ke depan, Juadi menyebut pihaknya telah menyiapkan dan akan mengoptimalkan cluster-cluster wilayah komoditas pertanian di Babel.

"Kalau clusternya karet ya karet, jangan lain. Kalau lada ya lada. Ini harus dibikin cluster dan diatur dengan regulasi. Tidak boleh dicampur-campur, tujuannya untuk menjamin produksi komoditi. Kemudian kalau sudah di-cluster, di sana lah nanti korporasi petani seperti koperasi, gapoktan, ataupun Bumdes yang bisa membantu mengembangkan kawasan komoditas pertanian hingga pemasarannya. Cluster ini sudah dibentuk cuma belum mantap, ini perlu dikunci dengan regulasi seperti peraturan kepala daerah," beber Juaidi. (Bangkapos.com/Dedy Qurniawan)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved