Wiki Bangka

Pernah Ngarpet Berkubang Lumpur, Kisah Mulkan Bupati Bangka Hanya Makan Lauk Mie dan Telur Ceplok

Sudah delapan bulan Mulkan menjadi Bupati di Kabupaten Bangka. Sejak dilantik sebagai Bupati Bangka 27 September 2018 banyak hal yang ia alami.

Pernah Ngarpet Berkubang Lumpur, Kisah Mulkan Bupati Bangka Hanya Makan Lauk Mie dan Telur Ceplok
Bangka Pos/Fery Laskari
Mulkan (kaus hitam topi putih) saat sedang melaut, memikul jaring pukat, sebelum jadi Bupati Bangka, beberapa tahun silam. 

BANGKAPOS.COM -- Jangan pernah memandang rendah pada seorang kuli, buruh atau orang yang cuma berprofesi sebagai pekerja kasar. Karena suatu ketika nasib mereka bisa saja berubah. Apalagi takdir sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.

Seperti yang terjadi pada seorang anak kampung, bernama Mulkan. Sekitar 30 tahun silam, remaja bertubuh mungil ini meninggalkan tanah kelahiran, Desa Pusuk Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat (Dulu Kabupaten Bangka). Ia hijrah, merantau ke kampung orang lain di Sungailiat Bangka demi menutut ilmu.

Berbekal ijazah SMPN 1 Kelapa Bangka Barat, anak pasangan H Jatsri-Almahumah Hj Ropiah ini, pada Tahun 1990 mendaftarkan diri sebagai murid di SMEA Yapensu Sungailiat. Pendidikan sekolah kejuruan menengah bidang ekonomi ia selesaikan pada 1993. Sayang, ijazah SMEA yang ia dapat ketika itu hanya cukup mengantarkannya sebagai tukang fotokopi alias PHL Koperasi, Kokartis, honor Rp 30 Ribu per bulan.

Tapi Mulkan tetap bertahan demi hidup di tanah rantau. Gaji yang dia peroleh terbilang minim, hanya cukup buat bayar kontrakan dan makan alakadarnya.

"Kenangan hidup yang paling susah dilupakan pada saat kos (di Sungailiat), kita harus makan dengan lauk mie goreng (mie instan) dan telur (ayam) ceplok setiap hari. Karena waktu itu dak punya duit. Kita harus bayar kos (kontrakan). Sedangkan gaji Kokartis tiga puluh ribu rupiah sebulan," kenangnya.

Lima tahun membujang dalam kesengsaraan, Mulkan dipertemukan Tuhan pada seorang gadis yang kini menjadi istrinya, Yusmiati. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Mulkan bersama dua orang kakaknya, tepaksa berkubang tanah dan lumpur mengais pasir timah menggunakan alat cangkul dan karpet (Ngarpet) seta dulang (Ngedulang).

"Tepaksa sambil ngarpet dan ngedulang timah di daerah KD Muntok (Riausilip) dan Tanjungratu (Sungailiat). Tapi harga timah waktu itu baru belasan ribu rupiah perkilonya. Itu sekitar Tahun 1997-1998," kata Mulkan, Jumat (14/6/2019), mengenang masa-masa sulit.

Padahal katanya, sejak kecil ia bercita-cita ingin menjadi kontraktor atau pengusaha alias pemborong. Sebab yang ia tahu, seorang kontraktor adalah pengusaha yang biasanya sukses, bergelimang harta. Apalagi pekerjaan kontraktor tidak terikat oleh waktu.

"Sejak kecil saya susah, orangtua kami hanya petani kecil (dan juga penjual ikan), menghidupi sebelas orang anak. Bayangkan saja, kalau makan, kami sangat terbatas. Kami harus berbagi, terutama soal sandang pangan. Kalau makan lauk ikan, itu ikannya (kecil) satu ekor potong dua, sepotong untuk makan siang dan sepotong untuk makan malam," kenang Mulkan di masa kecil saat masih hidup di kampung, Desa Pusuk.

Beruntung tekad Mulkan berapi-api. Semangatnya dalam bekerja, mencari uang pantang menyerah. Ia kemudian mencoba bergelut di bidang jual beli pasir timah, dalam skala kecil. Untung yang didapat walau tak seberapa, ia kumpul untuk dijadikan modal. Doanya dan juga keluarga dikabulkan Allah, usaha bisnis jual beli pasir timah mulai berkembang pesat hingga akhirnya ia jadi kolektor besar, penampung hasil tambang ternama di daerah ini, di bawah naungan CV Nurjanah dan PT Karya Abadi di kala itu.

Halaman
123
Penulis: ferylaskari
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved