Berita Sungailiat

Harga TBS Anjlok Petani Sawit Tak Mampu Beli Pupuk

Petani kebun kelapa sawit di Kabupaten Bangka, mulai panen raya. Di musim penghujan ini hasil kebun melimpah ruah

Harga TBS Anjlok Petani Sawit Tak Mampu Beli Pupuk
(ferylaskari).
Hasil panen TBS sawit kebun petani mandiri di Kabupaten Bangka sedang melimpah-ruah. Sayang di saat yang sama, harga TBS semakin anjlok. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Petani kebun kelapa sawit di Kabupaten Bangka, mulai panen raya. Di musim penghujan ini hasil kebun melimpah ruah. Sayang, harga tandan buah segar (TBS) kian hari kian terpuruk. Penurunan harga terjadi sejak beberapa bulan terakhir, secara bertahap.

Harga TBS yang didapat para pemilik delevery order (DO) di sejumlah pabrik saat ini cukup bervariatif, rata-rata pada kisaran Rp 1.080 hingga Rp 980 perkg TBS.

Harga tersebut kemudian diberikan pada para pedagang pengumpul atau tengkulak yang tentunya mematok harga lebih rendah pada petani, khususnya petani mandiri alias petani nonplasma.

Rata-rata pedagang pengumpul membayar TBS kelapa sawit milik petani mandiri pada kisaran variatif Rp 750 hingga Rp 860 perkg TBS.

Patokan harga pada kisaran di bawah harga DO pabrik ini karena pedagang pengumpul tentu saja mau mencari untung, termasuk alasan biaya angkut TBS dari kebun petani mandiri menggunakan truk oleh pedagang pengumpul ke pabrik CPO yang ada.

Selamet (40), petani kebun kelapa sawit kategori petani mandiri nonplasma asal Dusun Cungfo Desa Bukitlayang Kecamatan Bakam Bangka, Kamis (20/6/2019) mengatakan, TBS kelapa sawit di kebunnya hanya dibayar oleh pedagang pengumpul pada harga Rp 750 perkg.

"Buah sawit (TBS) di kebun saya hanya laku Rp 750 perkg," katanya.

Padahal beberapa bulan sebelumnya petani pengumpul masih berani membayar TBS petani mandiri di kebun Slamet pada kisaran harga rata-rata Rp 1.000 - Rp 1.100 perkg. Maklum waktu itu pedagang pengumpul masih mendapat harga DO dari pabrik sekitar Rp 1.250 hingga Rp 1.350 perkg.

Sementara itu, anjloknya harga sawit di tingkat pabrik CPO atau pemilik DO, tentu saja berpengaruh pada harga yang diberikan pedagang pengumpul di lapangan. Kondisi ini sangat memperihatinkan karena petani terancam tak mampu membeli pupuk atau membayar biaya perawatan kebun.

"Karena buah sawit (TBS) di kebun kami saat ini hanya dihargai oleh pedagang pengumpul Rp 750 perkg. Kalau begini terus harganya bisa hancur, kita tidak bisa lagi beli pupuk," sesalnya.

Halaman
12
Penulis: ferylaskari
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved