Berita Pangkalpinang

Banyak Karyawan Smelter Diberhentikan, Molen Khawatir Jumlah Pengangguran Bertambah

Diketahui ada sekitar 200-300 karyawan smelter di 30 smelter Pangkalpinang yang diberhentikan

Banyak Karyawan Smelter Diberhentikan, Molen Khawatir Jumlah Pengangguran Bertambah
Bangka Pos/Ira Kurniati
Wali kota Pamgkalpinang saat berkunjung ke smelter timah di kawasan industri Ketapang, Pangkalbalam, Rabu (26/6/2019) 

BANGKAPOS.COM -- Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil (Molen) mengunjungi sejumlah smelter timah di kawasan industri Ketapang, Pangkalbalam, Rabu (26/6/2019).

Kedatangan Molen lantaran laporan dari SPSI Pangkalpinang mengenai banyaknya masyarakat yang menganggur karena diberhentikan oleh pihak smelter. Diketahui ada sekitar 200-300 karyawan di 30 smelter Pangkalpinang yang diberhentikan. 

Ia menyayangkan banyaknya masyarakat yang menganggur dan khawatir multiflyer efek akan menimbulkan permasalahan ekonomi hingga kriminalitas.

"Saat apeksi di Semarang nanti saya akan sampaikan permasalahan di Pangkalpinang ini dan semoga ini bisa diperjuangkan jangan sampai ada kerugian. Saya berharap mereka bisa kerja kembali, dan ini tetap beraktivitas sehingga kesejahteraan masyarakat juga dapat kembali," pungkas Molen.

Sementara, Ketua Asosiasi Penambang dan Pengolah Pasir Mineral Indonesia (Atomindo), Darmansyah, mengatakan, kondisi ini sudah berjalan hampir setahun. Apalagi ketika dikeluarkan Permen Nomor 1806 tahun 2018 yang mewajibkan smelter tervalidasi CPI (Competent Person Indonesia). Sedangkan kepemilikan CPI di Pangkalpinang ada tiga orang.

"IUP secara keseluruhan ada 700 an. Secara logis tidak akan bisa mencapai itu (tervalidasi). Makanya dampak nya seperti ini," kata Darmansyah.

Dia mengatakan, sambil berjalan waktu smelter juga memenuhi kewajiban, namun lantaran kondisi  sehingga harus merumahkan para karyawan sehingga yang tersisa rata-rata yakni petugas keamanan saja. Dia menyebut, ada 30 IUP (Izin Usaha Pertambangan) di Pangkalpinang dan efektif berasosiasi. Tetapi karena pemberlakukan CPI tersebut sehingga tak lagi beroperasi.

(Bangka Pos/Iran Kurniati)

Penulis: Ira Kurniati
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved