Berita Sungailiat

Harga Sawit dan Lada Anjlok, Giliran Timah Terpuruk

Tak hanya harga sawit dan lada yang terpuruk, namun hasil tambang rakyat berupa pasir timah di kalangan penambang inkonvensional pun turun drastis.

Harga Sawit dan Lada Anjlok, Giliran Timah Terpuruk
Dokumen Bangka Pos
Hasil panen TBS sawit kebun petani mandiri di Kabupaten Bangka sedang melimpah-ruah. Sayang di saat yang sama, harga TBS semakin anjlok. 

BANGKAPOS.COM -- Harga berbagai komoditi utama di Pulau Bangka anjlok. Tak hanya harga sawit dan lada yang terpuruk, namun hasil tambang rakyat berupa pasir timah di kalangan penambang inkonvensional pun  turun drastis. Kondisi ini sangat mempengaruhi daya beli masyarakat di pasaran karena pendapatan berkurang.

Khusus hasil tambang, pasir timah, semula rakyat kecil yang menambang inkonvensional bisa menjual hasil berupa pasir timah yang sudah dicuci bersih (lobi basah kadar SN 72) senilai Rp 120.000 per kg atau harga pasir timah kotor (harga timah sakan dari camui) bervariatif Rp 100.000 hingga Rp 110.000 per kg, tergantung persentase kadar pasir dan mineral ikutan.

Tapi saat ini, harga patokan timah setelah lobi basah, yang semula Rp 120.000 perkg turun pada kisaran Rp 110.000 di tingkat pedagang pengumpul atau kolektor timah lokal.

"Bahkan ada kolektor yang cuma berani beli timah lobi (timah bersih basah) Rp 90.000 per kg. Itu artinya harga pasir timah yang baru didapat (masih kotor) dari lokasi tambang, hanya bernilai sekitar Rp 80.000 perkg," keluh Mang Kat, seorang penambang timah inkonvensional ketika ditemui Bangka Pos, Jumat (28/6/2019).

Diakui pedagang pengumpul timah lokal (kolektor), Acu Nop (35) di Sungailiat Bangka. Beberapa bulan sebelumnya ia masih berani membeli hasil tambang rakyat berupa pasir timah pada kisaran timah lobi (bersih basah kadar SN 72) senilai Rp 120.000 per kg atau harga timah kotor yang belum dilobi pada kisaran Rp 100.000 atau lebih.

"Tapi kalau sekarang harga timah lobi turun drastis sekitar sepuluh ribu rupiah dibanding waktu sebelumnya. Itu berarti kisaran timah lobi (bersih basah SN 72) yang sebelumnya Rp 120.000 perkg, turun sekitar Rp 110.000 perkg. Sedangkan timah kotor dari lokasi tambang kisaran Rp 90.000 perkg" katanya.

Afen (40), seorang pengusaha lokal di daerah ini merasakan, ketika berbagai harga komiditi turun, maka akan berpengaruh pada sektor ekonomi lainnya. Apalagi harga komiditi seperti sawit dan lada susah lebih dulu turun beberapa waktu lalu dan kemudian disusul penurunan harga timah rakyat di tingkat kolektor. Kondisi ini membuat rakyat semakin menjerit. "Efeknya ekonomi di Babel menjadi lemah," kata Afen.

(Bangka Pos/Fery Laskari)

Penulis: ferylaskari
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved