Breaking News:

Pesawat Lion Air Jatuh

Sudah Terima Rp 1,2 M dari Lion Air, Keluarga Korban JT610 Bakal Terima Tambahan Bantuan dari Boeing

Sudah Terima Rp 1,2 M dari Lion Air, Keluarga Korban JT610 Bakal Terima Tambahan Bantuan dari Boeing

Penulis: | Editor: Teddy Malaka
ionair.co.id
Penyerahan jenazah korban kecelakaan Lion Air JT610 

Akibatnya, hidung pesawat terdorong ke bawah oleh sistem trim pesawat.

Normalnya, trim berguna untuk menyesuaikan permukaan pesawat sehingga tetap terbang lurus.

Namun usaha Hervino dan Bhavye Suneja tak berhasil, pesawat pun menukik tajam.

Kopilot Harvino hanya bisa memekikkan takbir. "Allahu Akbar....Allahu Akbar!", sementara Bhavye Suneja hanya terdiam.

"Kondisinya seperti ujian, di mana ada 100 pertanyaan dan ketika waktu habis, Anda hanya bisa menjawab 75 pertanyaan. Kemudian Anda panik. Ini bagaikan kondisi time-out," kata salah seorang sumber Reuters.

Terkait isi CVR tersebut, Reuters telah meminta konfirmasi dari Lion Air, Boeing, hingga KNKT.

Juru bicara Lion Air mengatakan semua data dan informasi telah diberikan kepada pihak yang meyelidiki serta menolak berkomentar lebih lanjut.

Sebelumnya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengumumkan laporan awal kecelakaan pesawat Lion Air penerbangan JT610 pada 28 Novermber lalu.

Pihak KNKT menyebut pesawat tersebut ternyata bermasalah sejak tiga hari sebelumnya.

Hal itu diketahui KNKT berdasarkan data perawatan pesawat.

"Dari data perawatan pesawat, sejak tanggal 26 Oktober, tercatat ada enam masalah atau enam gangguan yang tercatat di pesawat itu," kata Ketua Subkomite Investigasi KNKT Nurcahyo Utomo saat merilis temuan awal jatuhnya pesawat di kantor KNKT, Gambir, Jakarta Pusat pada Rabu (28/11/2018), seperti dilansir dari Kompas.com.

Nurcahyo mengatakan, enam masalah yang terjadi itu berkaitan dengan masalah indikator kecepatan dan ketinggian pesawat.

Masalah tersebut pun terus terjadi hingga penerbangan terakhir sebelum pesawat jatuh, yakni untuk rute Denpasar-Jakarta pada 28 Oktober 2018.

Penerbangan rute Denpasar-Jakarta tersebut dinyatakan sudah tidak layak terbang.

Hal ini diketahui KNKT setelah mengecek black box pesawat.

"Menurut pandangan kami yang terjadi itu pesawat sudah tidak layak terbang," kata Nurcahyo.

Ia menjelaskan, Flight Data Recorder (FDR) mencatat adanya stick shakeraktif sesaat sebelum penerbangan hingga selama penerbangan.

Pada ketinggian sekitar 400 kaki, pilot menyadari adanya peringatan kecepatan berubah-ubah pada primary flight display (PFD).

Hidung pesawat PK-LQP mengalami penurunan secara otomatis.

Karena penurunan otomatis itu, kopilot kemudian mengambil alih penerbangan secara manual sampai dengan mendarat.

"Menurut pendapat kami, seharusnya penerbangan itu tidak dilanjutkan," ujarnya.

Nurcahyo mengatakan, temuan yang disampaikan KNKT hari ini merupakan laporan awal, yakni laporan yang didapat 30 hari setelah kecelakaan.

(bangkapos.com/Ira Kurniati/Tribun-Video/Alfin Wahyu Yulianto)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved