Kriminal

Ancam Istri Pakai Pisau Suami Dituntut Delapan Bulan Penjara

Gara-gara aniaya dan ancam istri pakai pisau, seorang suami, Ahmad Firdiansyah alias Memet diadili.

Ancam Istri Pakai Pisau Suami Dituntut Delapan Bulan Penjara
Wartakota
Ilustrasi pengacaman menggunakan pisau 

BANGKAPOS.COM-- Gara-gara aniaya dan ancam istri pakai pisau, seorang suami, Ahmad Firdiansyah alias Memet diadili. Jaksa Penuntut Umum (JPU) bahkan menuntut pria yang berdomisili di Kecamatan Belinyu itu menggunakan Pasal 44 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekeraaan dalam rumah tangga (KDRT).

Kepala Kantor Cabang Kejaksaan Negeri (Cabjari) Belinyu, Dede MY didampingi Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yudha Pratama kepada Bangka Pos, Rabu (10/7/2019) menyatakan, kasus ini berawal adanya laporan korban, Eka di Mapolsek Belinyu, beberapa waktu silam. Korban mengaku dianiaya dan diancam oleh suami, Terdakwa Ahmad Firdiansyah alias Memet, menggunakan senjata tajam jenis pisau.

Laporan korban ditindaklanjuti oleh Polsek Belinyu menyusul penangkapan pelaku. Sang suami kemudian ditetapkan sebagai tersangka hingga akhirnya kasus ini bermuara di 'meja hijau' Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat Bangka sejak beberapa pekan silam. "Selama proses persidangan berlangsung, terdakwa ditahan," kata Dede, saat memberikan keterangan tetap didampingi JPU Yudha Pratama.

Dede mengulas kronologis kejadian singkat seperti dituangkan dalam surat dakwaan di persidangan. Bermula saat terdakwa meminta uang kepada istrinya bernama Eka, sebesar Rp 300 ribu. Permintaan suami ditolak istri karena istri tidak punya uang. Namun rupanya suami memaksa sang istri hingga terjadi cekcok mulut.

"Hingga akhirnya korban (Eka) meminjam uang kepada kakak kandungnya dan uang tersebut langsung diberikan kepada terdakwa.
Rupanya uang itu pergunakan terdakwa untuk bayar utang dan melihat organ tunggal. Setelah tahu, istri (korban) merasa kesal dan tidak pulang ke rumah, menginap di rumah teman wanitanya," kata Dede.

Terdakwa kesal sehingga menyusul ke rumah teman istri tersebut, lalu membawa istrinya pulang ke rumah. Tapi dalam perjalanan terjadi cekcok mulut, lalu terdakwa emosi mendorong istri hingga jatuh tersungkur dan mengalami luka lecet. "Sebelumnya terdakwa mengeluarkan pisau mengancam istrinya," kata Dede mengutip isi surat dakwaan.

Karena diperlakukan seperti itu, korban langsung datang ke Polsek Belinyu untuk melaporkan perbuatan sang suami. Kemudian polisi maupun jaksa menjerat pelaku menggunakan Undang-Undang (UU) RI Nomor 23 Tahun 2004. "Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 44 Ayat (1) UU RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan KDRT. Saat sidang kemarin, terdakwa kita tuntut pidana delapan bulan kurungan penjara," tegas Dede.

Pada kesempatan yang sama Dede menyebutkan ada pertimbangan memberatkan sehingga JPu menuntut terdakwa delapan bulan penjara. Hal yang memberatkan karena sebelumnya terdakwa pernah dihukum.

"Sedangkan pertimbangan meringankan karena terdakwa ada perdamaian dengan istri (korban) dan terdakwa merupakan tulang punggung keluarga, bersikap sopan selama persidangan, mengakui dan menyesali perbuatan," jelas Dede memastikan, dalam waktu dekat perkara itu akan diputuskan oleh Majelis Hakim PN Sungailiat dipimpin Ketua Majelis, Fatimah. (Bangkapos.com/Fery Laskari)

Penulis: ferylaskari
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved