Jadi Pengusaha Tambak Udang, Mantan Wagub Babel Hidayat Arsani Jabat Ketua APTA Babel

Sebanyak 21 pengusaha tambak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membentuk Asosiasi Pengusaha Tambak Babel (APTA) Babel, Selasa (10/7/2019).

Jadi Pengusaha Tambak Udang, Mantan Wagub Babel Hidayat Arsani Jabat Ketua APTA Babel
Istimewa/APTA Babel
Hidayat Arsani saat membentuk APTA Babel di kediamannya, Rabu (10/7/2019) malam. 

Jadi Pengusaha Tambak Udang, Mantan Wagub Babel Hidayat Arsani Jabat Ketua APTA Babel

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sebanyak 21 pengusaha tambak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membentuk Asosiasi Pengusaha Tambak Babel (APTA) Babel, Selasa (10/7/2019).

Asosiasi itu dibentuk untuk menguatkan sinergi antar pengusaha tambak, yang selama ini berjalan sendiri baik dalam hal pengurusan izin dan pemasaran.

Atas inisiatif seorang pengusaha tambak, Hidayat Arsani, dibentuk lah APTA Babel yang dilakukan di kediamannya, kawasan Kampak, Kota Pangkalpinang.

Wakil Gubernur Babel 2013-2017 itu berharap, terbentuknya APTA Babel memberi ruang bagi pengusaha untuk melakukan kerja sama dengan pemerintah.

"Kami menyadari kondisi saat ini, pengusaha tambak, baik udang dan ikan terkadang dalam pengurusan izin dan sebagainya ada kendala.
Kami tidak ingin pengusaha terpecah belah, makanya dibentuk APTA Babel ini," kata Hidayat Arsani selaku ketua terpilih APTA Babel, Rabu (10/7/2019).

Pengusaha tambak yang tergabung dalam APTA menyebar di Bangka dan Belitung, dengan jumlah petambak udang lebih banyak dari ikan.

Mantan Wagub Babel ini menyebutkan bidang usaha tambak udang dan ikan menjadi pilihan alternatif selain pertambangan timah.

Hidayat Arsani mengakui, hasil tambak cukup menjanjikan karena pangsa pasarnya sangat luas bahkan tidak hanya dalam negeri tetapi mancanegara.

"Udang saya dibeli pengusaha dari Jawa lalu diekspor ke Amerika," ungkap Hidayat.

Pemilik ratusan hektare tambak udang ini menyebutkan, dirinya merasa lebih nyaman berbisnis di bidang perikanan dan perkebunan.

Bahkan, dia merasa meski sudah berusia 56 tahun namun semangatnya tetap tinggi ketika berada di tambak dan kebun aren serta durian miliknya.

"Ini bisnis sangat prospek, banyak menyerap tenaga kerja dan penghasilannya pun tak sedikit. Bagian sortir udang itu, sehari dibayar Rp 200 ribu," jelasnya.

Penulis: Alza Munzi
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved