Berita Pangkalpinang

Kajian BNPB: 550 Ribu Hektare Luas Babel Beresiko Kekeringan

Berdasarkan kajian BNPB yang dikutip BPBD Babel, potensi kekeringan di Babel tergolong kategori sedang-tinggi.

Kajian BNPB: 550 Ribu Hektare Luas Babel Beresiko Kekeringan
BANGKA POS / DEDY Q
Petugas BPBD Babel memperlihatkan citra peta satelit mengenai musim kemarau di Babel, Kamis (11/7/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Berdasarkan kajian BNPB yang dikutip BPBD Babel, potensi kekeringan di Babel tergolong kategori sedang-tinggi. Luas resiko kekeringan di Babel mencakup tujuh kabupaten kota dengan luasan 550.741 hektare dengan jumlah jiwa terpapar mencapai satu juta jiwa.

Kajian BNPB yang berlaku pada 2016-2020 ini dihitung dengan parameter jumlah penduduk, jumlah fasilitas publik, fasilitas kritis, data PDRB dari pemerintah daerah dan data tutupan lahan. Adapun per kabupaten/kota, sebaran potensi kekeringan mencakup Pangkalpinang sebanyak satu kecamatan, Bangka (delapan kecamatan), Bangka Barat (enam kecamatan), Bangka Tengah (empat kecamatan), Bangka Selatan (dua kecamatan), Belitung (dua kecamatan), Belitung Timur (lima kecamatan).

"Di Pangkalpinang itu yang potensi kekeringan misalnya di Kecamatan Bukitintan. Kemudian di Bangka Selatan itu, Kecamatan Paying dan Kecamatan Pulau Besar," kata Mikron, Kamis (11/7/2019).

Pihaknya juga memantau sebaran titik panas berdasarkan peta pencitraan yang dihasilkan dari pantauan satelit.

"Babel siang ini masih kosong hotspot. Kemarin ada enam titik. Ini dibaca oleh satelit," katanya.

Adapun suhu paling tinggi di Babel saat ini adalah 32-33 derajat celcius. Cuaca panas ini masih belum tergolong ekstrem.

"Yang ekstrem itu sampai 35 derajat, dan itu belum pernah terjadi di Babel,"katanya.

Dari laporan-laporan yang masuk ke BPBD Babel, daerah rawan kebakaran hutan di Babel saat ini adalah di Kabupaten Bangka Tengah dan Kabupaten Belitung Timur. Mikron mengatakan, saat ini panas yang terjadi di Babel merata.

Curah hujan di Babel dinyatakan mulai berkurang mulai dari bulan ini sampai Agustus. September diperkirakan sudah mulai turun hujan.

"Kemarau ini sekitar tiga bulan. Belum ada laporan kekeringan yang sampai parah saat ini. Suplai air masih bisa dari penampungan-penampungan air yang ada, dan ini masih bisa dipenuhi, paling yang perlu jadi perhatian saat ini adalah potensi kebakaran hutan dan lahan," kata Mikron.

(Bangka Pos/ Dedy Qurniawan)

Subscribe Youtube Bangka Pos

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved