Narkoba dan Stunting Jadi Perhatian PKK Babel, Ini Kata Melati Erzaldi

Dua hal yang menjadi perhatian Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Bangka Belitung adalah narkoba dan stunting.

Narkoba dan Stunting Jadi Perhatian PKK Babel, Ini Kata Melati Erzaldi
Bangka Pos/Dedi Qurniawan
Ketua TP PKK Babel Melati Erzaldi 

Narkoba dan Stunting Jadi Perhatian PKK Babel, Ini Kata Melati Erzaldi

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Dua hal yang menjadi perhatian Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Bangka Belitung adalah narkoba dan stunting.

Ketua TP PKK Babel Melati Erzaldi mengatakan narkoba bukan hanya persoalan Babel, melainkan juga menjadi kegawatdaruratan Indonesia.

Melati mengatakan, pihaknya diminta BNN Provinsi Babel sebagai mitra untuk mensosialisasikan bahaya narkoba ke tengah masyarakat lewat keluarga.

"Terus terang saja, di tingkat provinsi, kami memang belum membentuk Pokja atau Kader Anti Narkoba, tetapi di beberapa kabupaten kota sudah inisatif untuk membentuk itu," kata Melati, Selasa (16/7/2019).

Menurut dia, maraknya narkoba yang masuk ke Bangka Belitung dalam jumlah besar misalnya, perlu jadi perhatian. Perlu ada pengetatan di pintu-pintu masuk Bangka Belitung.

"Saya terus terang khawatir. Kok sebegitu mudahnya masuk dengan membawa narkoba dalam jumlah besar. Perlunya kewaspadaan ini sebenarnya bukan hanya di Babel, di negara lain screening di airport atau pelabuhan itu sangat ketat sampai membuat kita tidak nyaman, ternyata itulah yang membuat orang-orang jahat berpikir dua kali. Indonesia belum sampai ke situ, (dianggap) masih belum terlalu urgent untuk detail dalam screening di pintu-pintu masuk," ucap Melati.

Adapun terkait stunting, Melati mengatakan, pihaknya terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menangani stunting di Babel. Di Babel, gizi buruk dinilai bukan hanya dipengaruhi oleh ketidakmampuan ekonomi, melainkan juga oleh pengetahuan mengenai pola makan anak.

Pernah ada kasus di Pangkalpinang, seorang ibu dengan ekonomi baik, namun memiliki anak yang stunting.

"Pernah ditemukan kasus, keluarga mampu, ibunya pakai emas, handphone bagus, ternyata anaknya stunting. Ternyata si ibunya tidak punya pengetahuan yang baik dalam mengelola makanan yang bergizi," katanya.

Saat ini keluarga tersebut tengah dibina oleh tim PKK. "Ini sudah ada penadampingan. Selain PKK, ada juga organisasi perempuan lain, kayak Bhayangkari juga sudah turun. Kami menjalin komunikasi dan bermitra," ujarnya.

(bangkapos.com / Dedy Qurniawan)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved