HORIZON

Belajar dari Makam Sentosa

MEMULIAKAN jenazah dilakukan untuk memberikan penghormatan terbaik kepada orang yang telah meninggal

Belajar dari Makam Sentosa
bangkapos.com/Resha Juhari
Pekerja membersihkan makam di Pemakaman Sentosa, Semabung Kota Pangkalpinang, Minggu (26/3/2017). Setiap tahunnya, Pemakaman sentosa selalu ramai didatangi warga yang ingin beribadah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ceng Beng. Puncak perayaan Ceng Beng jatuh pada tanggal 4-5 April mendatang. 

MEMULIAKAN jenazah dilakukan untuk memberikan penghormatan terbaik kepada orang yang telah meninggal. Setiap keyakinan memiliki cara berbeda untuk memuliakan jenazah.

Dan terkait dengan memuliakan jenazah ini, kita menurunkan liputan tentang merias jenazah pada edisi kali ini. Namun bukan poin itu sebenanrnya yang ingin kita bahas. Kita justru akan membahas tentang Makam Sentosa, sebuah kompleks pemakaman China yang ada di Pangkalpinang.

Berada di kawasan Jalan Soekarno Hatta, Pangkalpinang, kompleks pemakaman ini memiliki luas 27 hektar, yang konon kabarnya menjadi yang terluas di Asia Tenggara.

Pemilihan kompleks makam yang ada di kawasan perbukitan ini menguatkan pesan, bagaimana pendiri makam ini ingin memberikan penghargaan yang tinggi kepada leluhur mereka.

Makam Sentosa dibangun pada tahun 1935 dan yang tertacatat sebagai makam tertua adalah makam keluarga Boen Pit Liem yang sekaligus menyumbangkan tanah milik mereka untuk kompleks makam ini.

Dari literatur yang ada, disebutkan di antara belasan ribu (12.000 lebih) nisan tersebut ada satu nisan tertulis makam Ny. Tjuriaty binti Kusumawidjaya berangka tahun 1994 yang adalah seorang muslim. Namun mungkin literatur yang kita baca perlu diupdate, sebab saat perayaan Ceng Beng April 2019 lalu, kita melihat makam lain di antara belasan makam tersebut dengan nisan tertulis Gunawan bin Tanda yang dimakamkan pada 7 November 2008.

Dari bentuk nisan dan juga tulisan yang ada di nisan tersebut, jelas sekali bahwa Gunawan bin Tanda juga seorang muslim. Inilah yang sejak awal tulisan sebenarnya kita ingin memberikan pesan bahwa semoga tulisan ini tidaklah begitu relevan apalagi penting.

Dua nisan muslim di antara belasan ribu nisan China di kompleks Makam Sentosa menunjukkan bahwa masyarakat Bangka Belitung, Pangkalpinang utamanya, tidak memiliki masalah terkait isu-isu intoleransi yang di bagian lain negeri ini yang sempat mengemuka bersamaan dengan event demokari lalu.

Makam Sentosa menjadi bukti bahwa Bangka Belitung adalah contoh nyata bagaimana akulturasi budaya berjalan harmonis, serta toleransi umat beragama berjalan dengan baik. Kita berharap, tulisan ini memberi manfaat ketika dibaca oleh orang di luar Bangka Belitung, yang kemudian merasa iri dan belajar kepada kita, warga Bangka Belitung tentang cara bagaimana hidup bermasyarakat.

Sebagai manusia, tentu masing-masing kita tak bisa memilih untuk dilahirkan dari orangtua beretnis apa. Kita juga harus semakin dewasa memaknai bahwa soal beragama adalah ranah private kita.

Makam Sentosa harus menjadi semangat kita bahwa perbedaan tidak harus diubah menjadi sama, tetapi yang harus kita lakukan adalah memahami dan kemudian menghormati perbedaan itu sendiri. (***)

Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: ibnu Taufik juwariyanto
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved