Berita Sungailiat

Psikolog Klinis RS: Kasus Kekerasan Anak Tidak Bisa Didiamkan

Mita mengungkapkan, kasus kekerasan pada anak tidak bisa didiamkan begitu saja.

Psikolog Klinis RS: Kasus Kekerasan Anak Tidak Bisa Didiamkan
IST/Mita
Psikolog Klinis Muda RSJ Sungailiat, Mita Octarina 

BANGKAPOS.COM, BANGKA--Kasus yang tengah ramai soal penganiayaan dilakukan oleh oknum anggota Polres Bangka Selatan terhadap DI (9), santri TPA Al Istiqomah Perumnas Guru, AMD Toboali mendapat perhatian dari Psikolog Klinis Muda Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sungailiat, Mita Octarina S.Psi., M.Psi.

Mita mengungkapkan, kasus kekerasan pada anak tidak bisa didiamkan begitu saja.

"Penyebab anak menjadi pelaku dari kekerasan itu sendiri sebenarnya cukup banyak, untuk itu orang tua harus mencari tahu terlebih dahulu penyebab anaknya melakukan kekerasan, sehingga tidak salah dalam mengambil tindakan. Bisa saja kekerasan yang dilakukan karena anak melakukan peniruan dari tayangan yang pernah dilihat atau melihat langsung tindakan kekerasan," ungkap Mita kepada wartawan, Selasa (23/7/2019).

Menurutnya, orang tua diharuskan mengontrol serta mengawasi tayangan-tayangan yang dilihat oleh anak, jelaskan ke anak, bila melakukan kekerasan tindakan yang ia lakukan tersebut memiliki akibat, serta dapat merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain.

"Tentunya perilaku tersebut tidak bisa diterima, bisa saja dari tekanan kelompok, atau karena mereka sebelumnya adalah korban dari kekerasan tersebut. Nah, untuk yang seperti ini sebaiknya dari rumah anak ditanamkan tentang keberhargaan diri mereka, sehingga tidak mudah terlibat atau jadi korban kekerasan. Ajari anak cara tentang hak mereka, cara melindungi diri serta jelaskan tentang kekerasan akibat dan konsekuensi yang akan didapatkan," tukasnya.

Selain itu, sambungnya jelaskan ke anak tanda kekerasan agar anak tidak menjadi korban atau pelakunya, inti utamanya adalah penanaman nilai terhadap anak di rumah bersama dengan orangtua.

Ketika anak diberikan pondasi yang kuat sejak kecil dalam pengasuhan dan didikan, anak tidak akan mudah menjadi pelaku atau korban kekerasan itu sendiri.

"Hal yang perlu dilakukan saat anak memjadi korban, adalah latih anak untuk tidak diam sehingga ketika dia merasa tidak nyaman anak akan mengutarakan ketidak nyamannya, misalnya mengatakan. Berhenti, aku tidak suka, dan sebagainya, dengan begitu anak memberikan respon terhadap pelaku. Kemudian koordinasi dengan sekolah juga penting, untuk mencari solusi bersama agar suasana sekolah kembali nyaman, bisa juga dengan melapor kepada pihak berwajib ketika kondisi semakin parah dan sekolah tidak memberikan respon," jelasnya.

(Bangkapos/Riki Pratama)

Penulis: Riki Pratama
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved