Berita Sungailiat

Staf Ahlli Kementrian PPPA Gelar Diskusi Tematik Bahas Eksploitasi Seksual Anak

Perlu ada komitmen dalam upaya pencegahan eksploitasi terhadap anak berbasis online

Staf Ahlli Kementrian PPPA Gelar Diskusi Tematik Bahas Eksploitasi Seksual Anak
Bangkapos/Riki Pratama
Diskusi tematik Staff Ahli Kementrian PPPA dengan Tema Ekspolitasi Seksual Anak berbasis siber foto diambil, Kamis (25/7/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA--Staf Ahli Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Bidang Pembangunan Keluarga Sri Danti Anwar mengungkapkan dampak negatif penggunaan internet untuk anak usia sekolah tanpa pengawasan orang tua.

Seperti dampak negatif eksploitasi seksual anak bisa saja terjadi, sehingga menurutnya untuk mencegah itu semua unsur berperan dari pemerintah ataupun masyarakat untuk pencegahannya.

"Perlu ada komitmen dalam upaya pencegahan eksploitasi terhadap anak berbasis online, sebagai Kabupaten/Kota, Kabupaten Bangka dipilih untuk berdiskusi sama dengan mereka kasus eksploitasi, sambil berbagi data dan informasi mengenai pemakaian gadget yang berlebihan terhadap anak," jelas Sri Danti Anwar kepada wartawan, Kamis (25/7/2019).

Menurutnya, pemerintah sudah membuatkan peraturan terkait undang-undang perlindungan anak, dengan pentingnya mencegah terjadinya kejadian yang buruk dengan menggunakan internet bila tidak diawasi dan salah dalam penggunaanya.

"Dari data ada pengguna internet dari usia 13 sampai 18 tahun mereka anak dari tamat SD sampai SMA tiap hari pakai internet, ada negatif positifnya, negatif yaitu membuka pornografi kekerasan, lalu pemahaman radikalisme, ekspolitasi prostasi online, penyebaran kebencian banyak sekali kejahatan cyber sudah muncul di indonesia," lanjutnya.

Ia mengatakan banyak korban dari Ekspolitasi online yang seharusnya diberikan pemahaman terkait penggunaan gadget dalam kehidupan hari harinya.

"Untuk membatasi tidak cukup membatasi anak bermain gadget,tetapi juga harus diperdayakan, berikan pendidikan seksualitas secara dini, anak laki dan perempuan mana yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh, itu adanya kerentanan, dan peran orang tua," lanjutnya.

Selain itu, perkawinan dini juga harus dicegah karena melihat kesiapan dari pasangan tersebut dalam upaya merawat anak anaknya, diperlukan pendidikan serta pengetahuan untuk mendidiknya.

"Di Bangka ada perkawinan usia anak baru 15 tahun, sekolah tidak selesai," tukasnya. (Bangkapos/Riki Pratama)

Penulis: Riki Pratama
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved