Umat Hindu Pangkalpinang Rayakan Galungan

Sekitar 50 orang umat hindu Kota Pangkalpinang mengikuti malam puncak perayaan Hari Raya Galungan di Utama Mandala Pura Jagat Natha

Umat Hindu Pangkalpinang Rayakan Galungan
Bangka Pos/Edwardi
I Nengah Wiardiasa Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pangkalpinang 

Umat Hindu Pangkalpinang Rayakan Galungan

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sekitar 50 orang umat hindu Kota Pangkalpinang mengikuti malam puncak perayaan Hari Raya Galungan di Utama Mandala Pura Jagat Natha Surya Kencana pada Rabu, 24 Juli 2019.

Dalam perayaan itu disampaikan darma wacana (ceramah) dengan tema “Upaya Mencari Tuhan”
oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pangkalpinang, yang juga tokoh panutan umat Hindu Pangkalpinang, I Nengah Wiardiasa.

“Berdasarkan pengertian bahwa Tuhan bersatu dengan ciptaan-Nya itu, maka untuk mencari dan membuktikan keberadaan Tuhan kita menggambarkan usaha pencariannya dengan memanfaatkan sistim simbol untuk memudahkan pemahaman,” kata I Nengah Wiardiasa, Senin (29/07/2019).

Dilanjutkannya, karena mencapai yang tak terpikirkan sangat sulit bagi kita yang terbatas ini, sedangkan wujud-Nya tak tergambarkan, karena pikiran tak mampu mencapai-Nya dan kata-kata tak dapat menerangkannya.

Didefinisikanpun tidak mungkin, sebab kata-kata hanyalah produk pikiran hingga tak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenaraan-Nya, sehingga membutuhkan simbol dan makna dari fungsi Tuhan itu sendiri.

“Kalau Tuhan diibaratkan angin, dimanakah sarang angin itu berada? Disini jelas bahwa sesuatu yang dicari itu sarang angin yang merupakan sesuatu yang tidak tergambarkan atau tidak dapat disepertikan yang dalam agama Hindu disebut Acintya ( tak terpikirkan dan tak berwujud) tidak ada suatu tempat apapun yang tiada tempati, beliau ada disini dan berada disana,” jelas I Nengah.

Ditambahkannya, dengan pengertian Acyntia atau sesuatu yang tak tergambarkan itu maka hakekat Tuhan adalah sebuah kekosongan atau suwung. Kekosongan adalah sesuatu yang ada tapi tak tergambarkan, maka sarang angin pun adalah kekosongan.

“Jadi hakekat Tuhan adalah kekosongan abadi yang padat energi seperti areal hampa udara yang menyelimuti segala secara imanen sekaligus transeden tak terbayangkan namun mempunyai energi yang luar biasa, hingga membuat semua benda di angkasa berjalan sesuai kodratnya dan tidak saling bertabrakan, Sang Kosong atau Suwung itu meliputi segalanya. Ia seperti udara yang tanpa batas dan keberadaanya menyelimuti semua yang ada. Baik diluar maupun di dalamnya,” lanjutnya.

Dijelaskannya karena pada diri kita ada atman. Yang tak lain adalah cahaya atau pancaran energi Tuhan, maka hakekat atman adalah juga kekosongan yang padat energi itu, dengan demikian apa bila dalam diri kita hanya ada Atman, tanpa ada muatan yang lain.

"Misalnya nafsu dan keinginan yang lain, maka energi Atman itu akan berhubungan atau menyatu dengan Sang Sumber Energi, untuk itu yang diperlukan dalam usaha pencarian adalah mempelajari proses penyatuan antara Atman Dan Brahman itu," jelasnya.

(Bangkapos.com/Edwardi)

Penulis: edwardi
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved