Berita Pangkalpinang

Inilah Tren Hijrah Lulusan SLTA Studi Keluar Daerah

Rendy Hamzah menilai setiap tahun tren peningkatan siswa yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi relatif lebih baik

Inilah Tren Hijrah Lulusan SLTA Studi Keluar Daerah
Ist/Rendy Hamzah
Komisi pendidikan tinggi dewan pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rendi Hamzah

BANGKAPOS.COM--Komisi Pendidikan Tinggi Dewan Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rendy Hamzah menilai setiap tahun tren peningkatan siswa yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi relatif lebih baik jika dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Terlebih dengan kehadiran berbagai kampus/ perguruan tinggi baru dengan berbagai pilihan departemen prodi yang sesuai dengan minat siswa di Babel hingga saat ini, tentu sedikit banyak telah membantu para adik-adik siswa untuk melanjutkan jenjang pendidikannya ke perguruan tinggi.

"Memang harus diakui, jika dibandingkan dengan jumlah yang lulusan SMA/SMK setiap tahunnya, tentu Angka Partisipasi Kasar (APK) anak-anak kita yang masuk ke perguruan tinggi masih rendah jika dibandingkan dengan daerah lainnya karena banyak anak yang tidak melanjutkan," kata Rendy.

Menurunya, kondisi  ini menjadi pekerjaan rumah bersama, khususnya bagi semua pihak perguruan tinggi bersama pihak pemerintah di Babel untuk mendongkrak Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi dI Babel yang saat ini masih berkutat di angka 22 persen, Angka itu tentu sangat rendah karena secara nasional kurang lebih mencapai 34 persen.

Dia memandang, terkait tren kuliah ke luar daerah, ada beberapa alasan mengapa minat siswa melanjutkan studi ke luar daerah masih terjadi, tentunya tren atau angkanya tidaklah setinggi saat lima tahun yang lalu.

Namun demikian hijrah untuk belajar ke luar daerah masih tetap terjadi setiap tahunnya. Pada prinsipnya ada beberapa catatan penting terkait dengan tren tersebut.

Pertama, alasannya disebabkan oleh pilihan departemen atau jurusan yang belum ada di daerah, sehingga pilihannya lebih baik studi ke luar daerah dengan pilihan jurusan yang lebih variatif.
Selain itu juga persoalan akreditasi jurusan yang dianggap masih belum kuat.

"Padahal konteks akreditasi bagi jurusan-jurusan baru di semua perguruan tinggi di tanah air pastinya membutuhkan waktu, tidak bisa cepat dan instan begitu saja, karena harus ada instrumen penilaian secara komprehensif, termasuk mutu lulusan dan sebagainya. Padahal ada jurusan baru yang baru berdiri 1-2 tahun sehingga tidak mungkin ada lulusannya," jelas Rendy.

Kedua, cara kampus meningkatkan kualitasnya, yaitu dengan cara meningkatkan jejaring kerjasama dengan berbagai stakeholders, baik pihak pemerintah maupun dari privat sektor, baik dalam dan luar negeri. Termasuk memfasilitasi beberapa program magang, KKN, pelatihan profesional dan juga berbagai program pembiayaan beasiswa afirmasi bagi mahasiswa, yang bersumber baik dari dalam maupun luar negeri.

"Hal ini tentu juga berpengaruh terhadap citra dan kiprah sebuah perguruan tinggi dalam rangka meningkatkan minat para siswa untuk studi di daerahnya," ungkap Rendy.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Noordin
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved